Berita Tentang "Lapas"
CLOSE ADS
CLOSE ADS



Jurnalpelita - Indramayu — Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Indramayu melaksanakan kegiatan bersih-bersih saluran air di depan area Lapas Indramayu pada Kamis, 4 Juni 2026. Kegiatan ini dilaksanakan bersama Dinas Lingkungan Hidup serta melibatkan 4 orang Warga Binaan Pemasyarakatan Lapas Indramayu.

Kegiatan bersih-bersih tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian Lapas Kelas IIB Indramayu terhadap kebersihan lingkungan sekitar, khususnya dalam menjaga kelancaran saluran air agar tidak tersumbat dan menimbulkan genangan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi upaya nyata dalam menciptakan lingkungan yang sehat, bersih, tertib, dan nyaman.

Dalam pelaksanaannya, petugas Lapas Indramayu bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Warga Binaan melakukan pembersihan sampah, lumpur, rumput liar, serta berbagai material lain yang menghambat aliran air di saluran depan Lapas. Kegiatan dilakukan secara gotong royong dengan tetap memperhatikan keamanan, ketertiban, dan pengawasan terhadap Warga Binaan yang dilibatkan.

Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud sinergi antara Lapas Indramayu dengan Pemerintah Daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup dalam menjaga kebersihan lingkungan.

“Kami terus berupaya membangun kepedulian terhadap lingkungan, baik di dalam maupun di sekitar Lapas. Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan lingkungan tetap bersih, sehat, dan nyaman, sekaligus memperkuat sinergi dengan Dinas Lingkungan Hidup,” ujar Berthoni.

Lebih lanjut, pelibatan Warga Binaan Pemasyarakatan dalam kegiatan ini juga menjadi bagian dari pembinaan, khususnya dalam menumbuhkan rasa tanggung jawab, kepedulian sosial, kedisiplinan, serta semangat gotong royong.

Melalui kegiatan tersebut, Lapas Kelas IIB Indramayu berharap kebersihan lingkungan sekitar Lapas dapat terus terjaga, serta menjadi contoh nyata pentingnya kolaborasi dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas dari potensi genangan air.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi


Jurnalpelita - Indramayu — Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Indramayu melaksanakan kegiatan sosialisasi kepada keluarga warga binaan dan warga binaan yang sedang mengikuti layanan kunjungan tatap muka. Kegiatan ini dilaksanakan oleh jajaran pejabat struktural Lapas Kelas IIB Indramayu, yaitu Kasi Binadik dan Giatja, Kasi Administrasi Keamanan dan Ketertiban, Kasubsi Keamanan, serta Kasubsi Portatib.
‎Sosialisasi tersebut dilaksanakan sebagai bentuk komitmen Lapas Kelas IIB Indramayu dalam memberikan pelayanan pemasyarakatan yang transparan, humanis, dan bebas dari pungutan liar. Hal ini sejalan dengan arahan Direktur Jenderal Pemasyarakatan untuk terus meningkatkan kualitas layanan, memperkuat integritas petugas, serta memastikan seluruh layanan pemasyarakatan diberikan secara profesional, akuntabel, transparan, dan bebas dari segala bentuk pungutan.
‎Dalam kegiatan tersebut, petugas menyampaikan berbagai informasi penting kepada keluarga warga binaan dan warga binaan, khususnya terkait pelayanan kunjungan, program pembinaan, penempatan kamar hunian, serta program integrasi warga binaan. Seluruh layanan dan program tersebut ditegaskan gratis atau tidak dipungut biaya apa pun.
‎Selain itu, jajaran Lapas Kelas IIB Indramayu juga menyampaikan keterbukaan terhadap pengaduan, saran, maupun kritik dari masyarakat, keluarga warga binaan, dan warga binaan. Setiap masukan yang disampaikan akan menjadi bahan evaluasi dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan di lingkungan Lapas Kelas IIB Indramayu.
‎Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya Lapas Kelas IIB Indramayu dalam mendukung pelaksanaan arahan Direktur Jenderal Pemasyarakatan terkait pemberantasan Halinar, yaitu handphone, pungutan liar, dan narkoba. Lapas Kelas IIB Indramayu berkomitmen untuk menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang bersih, aman, tertib, serta bebas dari segala bentuk penyimpangan layanan.
‎Melalui sosialisasi ini, diharapkan keluarga warga binaan dan warga binaan dapat memahami bahwa seluruh pelayanan dan program pembinaan di Lapas Kelas IIB Indramayu dilaksanakan secara terbuka, sesuai prosedur, dan tanpa pungutan biaya. Lapas Kelas IIB Indramayu juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mendukung terwujudnya pelayanan pemasyarakatan yang bersih, berintegritas, dan semakin dipercaya oleh masyarakat.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi



Jurnalpelita - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Indramayu kembali melaksanakan razia dan penggeledahan rutin di blok hunian sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan dan ketertiban serta mendukung program Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin (01/06/2026) tersebut menyasar Blok A kamar 7 dan 8. Razia dipimpin oleh Kepala Seksi Administrasi Keamanan dan Ketertiban (Adm Kamtib) bersama Plh. Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (Ka KPLP), Kasubsi Portatib, Kasubsi Keamanan, serta jajaran staf KPLP, keamanan, dan portatib.

Pelaksanaan razia dilakukan sebagai tindak lanjut 15 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya program pemberantasan peredaran narkoba, penggunaan handphone ilegal, dan praktik pungutan liar (halinar) di lingkungan pemasyarakatan. Kegiatan ini juga merupakan implementasi komitmen jajaran pemasyarakatan dalam menciptakan lapas yang bersih dari narkoba serta berbagai pelanggaran yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban.

Dari hasil penggeledahan, petugas menemukan sejumlah barang yang termasuk kategori barang larangan, di antaranya alat komunikasi ilegal, alat elektronik, senjata tajam rakitan, pinset, hanger kawat, botol kaca, dan bola karet. Seluruh barang hasil temuan kemudian diamankan untuk didata, diinventarisasi, dan selanjutnya dimusnahkan sesuai ketentuan yang berlaku.

Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni, menegaskan bahwa kegiatan razia rutin merupakan langkah preventif yang terus dilakukan guna menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang aman, tertib, dan kondusif.

“Razia rutin ini merupakan bentuk komitmen kami dalam menjaga keamanan dan ketertiban di dalam lapas. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya nyata pemberantasan peredaran narkoba, penggunaan handphone ilegal, serta berbagai potensi pelanggaran yang dapat mengganggu stabilitas keamanan di lingkungan lapas,” kata Berthoni.

Menurutnya, pengawasan dan penggeledahan secara berkala akan terus dilaksanakan sebagai langkah deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan dan ketertiban.

“Kami akan terus meningkatkan pengawasan dan melakukan razia secara konsisten. Harapannya, keberadaan barang-barang terlarang dapat diminimalisir sehingga proses pembinaan warga binaan dapat berjalan dengan baik dan optimal,” pungkasnya.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi


Jurnalpelita - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Indramayu kembali menegaskan komitmennya dalam pemenuhan hak-hak warga binaan melalui pemberian remisi kepada narapidana lanjut usia. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat (29/5/2026) di Aula Lapas Kelas IIB Indramayu sebagai tindak lanjut Surat Keputusan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia Nomor PAS-959.PK.05.03 Tahun 2026 tentang Pemberian Remisi Usia di Atas 70 Tahun.

Dalam kegiatan tersebut, Surat Keputusan pemberian remisi diserahkan kepada dua warga binaan lanjut usia, yakni Mustopa bin Maskholit (alm) yang memperoleh remisi selama lima bulan dan Suharya bin Sukarja (alm) yang memperoleh remisi selama empat bulan. Kegiatan dihadiri jajaran Seksi Bimbingan Narapidana dan Kegiatan Kerja (Binadik dan Giatja), Subsi Registrasi dan Bimbingan Kemasyarakatan (Bimkemas), serta warga binaan penerima remisi.

Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni, mengatakan pemberian remisi kepada warga binaan lanjut usia merupakan bentuk penghormatan terhadap hak-hak narapidana sekaligus implementasi sistem pemasyarakatan yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

“Pemberian remisi ini merupakan bentuk apresiasi negara kepada warga binaan yang telah menunjukkan perilaku baik dan memenuhi persyaratan sesuai ketentuan yang berlaku. Kami berkomitmen memastikan seluruh hak warga binaan dapat terpenuhi secara adil dan transparan,” ujar Fery Berthoni.

Menurutnya, remisi bukan sekadar pengurangan masa pidana, melainkan juga sarana pembinaan yang memberikan motivasi bagi warga binaan untuk terus memperbaiki diri dan aktif mengikuti program pembinaan selama menjalani masa pidana.

“Melalui pembinaan yang berkelanjutan dan pemberian hak yang tepat, kami berharap warga binaan dapat terus meningkatkan kualitas diri serta mempersiapkan diri untuk kembali berperan positif di tengah masyarakat,” tambahnya.

Pemberian remisi kepada warga binaan lanjut usia tersebut sejalan dengan kebijakan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia yang terus mendorong pemenuhan hak warga binaan secara berkeadilan. Pada momentum Hari Raya Waisak 2570 BE Tahun 2026, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan memberikan Remisi Khusus dan Pengurangan Masa Pidana Khusus kepada 1.052 narapidana dan anak binaan beragama Buddha di seluruh Indonesia.

Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, menegaskan bahwa pemberian remisi merupakan bentuk penghargaan negara kepada narapidana dan anak binaan yang telah menunjukkan perubahan perilaku positif serta aktif mengikuti program pembinaan.

Selain sebagai pemenuhan hak, pemberian remisi juga menjadi bagian dari upaya mendorong keberhasilan sistem pemasyarakatan yang berorientasi pada pembinaan, reintegrasi sosial, dan pembentukan karakter. Momentum ini mengandung nilai-nilai positif berupa penghargaan atas perubahan diri, peningkatan kedisiplinan, penguatan spiritual, serta motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Bagi warga binaan lanjut usia maupun penerima remisi keagamaan, remisi menjadi simbol hadirnya negara dalam memberikan kesempatan kedua kepada setiap individu yang telah berupaya memperbaiki diri. Dengan demikian, proses pembinaan di dalam lapas tidak hanya berfokus pada aspek penegakan hukum, tetapi juga menumbuhkan harapan, tanggung jawab, dan kesiapan warga binaan untuk kembali hidup produktif di tengah masyarakat.

Melalui pemberian remisi dan berbagai program pembinaan yang berkelanjutan, Lapas Kelas IIB Indramayu terus mendukung terwujudnya sistem pemasyarakatan yang humanis, berkeadilan, serta berorientasi pada pemulihan dan pemberdayaan warga binaan sesuai amanat peraturan perundang-undangan.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi



Jurnalpelita - ‎Indramayu — Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Indramayu menggelar Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 pada Senin, 1 Juni 2026, bertempat di Lapangan Tenis Lapas Indramayu. Kegiatan berlangsung khidmat dengan diikuti oleh jajaran pejabat struktural, pegawai, CPNS, serta Warga Binaan.
‎Mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Fondasi Perdamaian Dunia”, peringatan Hari Lahir Pancasila menjadi momentum bagi seluruh jajaran Lapas Indramayu untuk memperkuat semangat kebangsaan, menjaga persatuan, serta meneguhkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
‎Dalam amanat yang disampaikan, Pancasila ditegaskan bukan hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai pedoman hidup bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Nilai-nilai Pancasila harus terus dihidupkan dalam sikap, perilaku, dan pengabdian, termasuk dalam memberikan pelayanan serta pembinaan di lingkungan pemasyarakatan.
‎Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni, menyampaikan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila menjadi pengingat penting bagi seluruh jajaran untuk terus bekerja dengan integritas, disiplin, dan semangat persatuan.
‎“Pancasila harus hadir dalam tindakan nyata. Nilai-nilai persatuan, kemanusiaan, keadilan, dan gotong royong perlu kita terapkan dalam pelaksanaan tugas, pelayanan, serta pembinaan kepada Warga Binaan,” ujar Berthoni.
‎Rangkaian upacara berlangsung tertib, mulai dari penghormatan kepada Inspektur Upacara, pengibaran Bendera Merah Putih, mengheningkan cipta, pembacaan Naskah Pancasila, pembacaan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, amanat Inspektur Upacara, hingga pembacaan doa.
‎Melalui kegiatan ini, Lapas Indramayu menegaskan komitmennya untuk terus menanamkan nilai-nilai Pancasila sebagai landasan dalam membangun budaya kerja yang berintegritas, profesional, humanis, dan berorientasi pada pelayanan publik.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi


Jurnalpelita - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Indramayu menegaskan komitmennya dalam memberikan pelayanan publik yang bersih, transparan, profesional, dan bebas dari pungutan biaya. 

Komitmen tersebut menjadi salah satu fokus utama dalam Rapat Penguatan dan Evaluasi Layanan Kunjungan Tatap Muka dan Penerimaan Barang yang digelar di Lapas Indramayu, Sabtu (30/5).

Dalam arahannya, Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni, menekankan pentingnya keterbukaan informasi kepada masyarakat. Ia menginstruksikan seluruh jajaran pejabat struktural dan petugas layanan untuk aktif mensosialisasikan bahwa seluruh layanan dan program pembinaan yang tersedia di Lapas Indramayu dapat diakses tanpa dipungut biaya.

"Seluruh petugas layanan kunjungan harus menjadi garda terdepan dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat bahwa semua program di Lapas Indramayu gratis. Mulai dari layanan kunjungan, layanan informasi, perawatan kesehatan, program pembinaan, pengusulan remisi dan integrasi, hingga penempatan kamar hunian warga binaan, semuanya diberikan tanpa biaya. Informasi ini harus disampaikan secara jelas dan terbuka agar masyarakat memperoleh kepastian serta memahami hak-haknya dengan baik," tegas Berthoni.

Menurutnya, transparansi informasi merupakan langkah penting untuk membangun kepercayaan publik sekaligus mencegah munculnya praktik-praktik yang dapat merugikan masyarakat. Dengan pemahaman yang baik mengenai layanan yang diberikan, masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh oknum yang mengatasnamakan petugas atau instansi untuk meminta imbalan dalam bentuk apa pun.

Selain penguatan komitmen layanan gratis, rapat juga membahas evaluasi mekanisme pemeriksaan barang bawaan dan alur kunjungan guna meningkatkan kenyamanan serta kelancaran pelayanan, terutama pada saat terjadi peningkatan jumlah pengunjung di hari-hari tertentu.

Sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pelayanan, seluruh petugas di area layanan juga diingatkan untuk konsisten menerapkan prinsip 5S, yaitu Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun. Melalui penerapan budaya kerja tersebut, Lapas Indramayu berupaya menghadirkan pelayanan yang humanis, responsif, profesional, dan akuntabel.

Dengan komitmen yang terus diperkuat, Lapas Indramayu berharap dapat memberikan pelayanan publik yang semakin prima, transparan, serta memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang berkunjung maupun mengakses berbagai layanan pemasyarakatan.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi


Jurnalpelita - INDRAMAYU – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Indramayu melaksanakan penyembelihan dan penyaluran hewan kurban dalam rangka memperingati Hari Raya Idul Adha 1447 H yang jatuh pada 27 Mei 2026. Pada tahun ini, Lapas Indramayu menyembelih total 18 ekor hewan kurban yang terdiri dari 2 ekor sapi dan 16 ekor kambing.

Adapun hewan kurban tersebut berasal dari berbagai pihak, diataranya Bupati Indramayu, Kejaksaan Negeri Indramayu, Polres Indramayu, PDAM Indramayu, Petugas Lapas Indramayu dan Warga Binaan Lapas Indramayu, serta masyarakat.

Seluruh hasil pemotongan hewan kurban didistribusikan kepada warga binaan, petugas, dan masyarakat. Untuk warga binaan, Lapas Indramayu menyalurkan sebanyak 140 kilogram daging sapi dan 50 kilogram daging kambing yang akan diolah dan dimasak di dapur Lapas agar dapat dinikmati oleh seluruh warga binaan. Sementara itu, pendistribusian daging kurban untuk masyarakat dilakukan dengan menyalurkan sebanyak 100 paket kepada masyarakat sekitar Lapas dan 50 paket kepada masyarakat yang akan menjadi Desa Binaan Lapas Indramayu, yaitu Desa Malang Semirang, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu. Selain itu, paket daging kurban juga disampaikan kepada rekan media Lapas Indramayu, mitra UMKM, petugas Pos Bapas Indramayu, serta tenaga instruktur atau penyuluh kegiatan pembinaan di Lapas Indramayu.

Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni, menyampaikan bahwa kegiatan kurban ini merupakan bentuk kepedulian sosial sekaligus momentum untuk mempererat tali silaturahmi dan berbagi kebahagiaan di hari raya. Menurutnya, ibadah kurban tidak hanya menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa syukur, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama.

“Ibadah kurban ini adalah momentum bagi kita semua untuk meningkatkan rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama. Melalui pemotongan 2 ekor sapi dan 16 ekor kambing ini, kami ingin memastikan kebahagiaan Idul Adha dapat dirasakan oleh semua pihak," ujar Fery Berthoni.

Berthoni juga menambahkan bahwa penyaluran daging kurban kepada masyarakat sekitar merupakan wujud nyata kehadiran dan kepedulian Lapas Indramayu terhadap lingkungan sosial di sekitarnya. Ia berharap kegiatan ini dapat mempererat hubungan baik antara Lapas, warga binaan, petugas, dan masyarakat.

“Kami berharap paket kurban yang dibagikan kepada masyarakat sekitar serta seluruh pihak penerima dapat membawa keberkahan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah di lingkungan Lapas Kelas IIB Indramayu,” pungkasnya.

Proses penyembelihan hingga pendistribusian daging kurban berjalan dengan aman, tertib, dan tetap menjaga kebersihan lingkungan Lapas. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa Lapas Kelas IIB Indramayu tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan, tetapi juga terus membangun kepedulian sosial dan hubungan harmonis dengan masyarakat.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Reaksi


Jurnalpelita - Suasana Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di Lapas Kelas IIB Indramayu berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan. Salat Iduladha digelar bersama dan diikuti oleh petugas, warga binaan, serta keluarga warga binaan.

Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni, mengatakan momentum Idul Adha menjadi sarana untuk meningkatkan keimanan, kepedulian sosial, serta mempererat kebersamaan antara petugas dan warga binaan.

“Perayaan Idul Adha ini bukan hanya menjadi bentuk ibadah, tetapi juga momentum untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, kepedulian, dan ketakwaan bagi seluruh warga binaan maupun petugas di lingkungan lapas,” tutur Berthoni.

Selain pelaksanaan salat Idul Adha, Lapas Kelas IIB Indramayu juga menerima hewan kurban berupa satu ekor sapi dan 15 ekor domba. Hewan kurban tersebut disembelih dan dagingnya dibagikan kepada warga binaan, petugas, masyarakat sekitar, serta mitra kerja lapas.

“Alhamdulillah, tahun ini kami menerima titipan kurban berupa satu ekor sapi dan 15 ekor domba. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mempercayakan penyaluran hewan kurban melalui Lapas Kelas IIB Indramayu,” kata Berthoni.

Ia menambahkan, daging kurban diprioritaskan untuk seluruh warga binaan agar mereka tetap dapat merasakan suasana dan kebahagiaan Hari Raya Idul Adha meski sedang menjalani masa pembinaan di dalam lapas.

Proses penyembelihan dilakukan secara bertahap guna memastikan distribusi berjalan cepat dan merata. Pada hari pertama, pembagian difokuskan kepada warga binaan, kemudian dilanjutkan kepada masyarakat sekitar hingga seluruh hewan kurban selesai dipotong dan disalurkan.

Berthoni berharap semangat Idul Adha dapat menjadi pengingat pentingnya nilai keikhlasan, kepedulian sosial, dan ketakwaan kepada Allah SWT bagi seluruh pihak yang terlibat.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi



Jurnalpelita - Indramayu- Program pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Indramayu kembali menunjukkan hasil positif. Melalui budidaya ayam petelur, Lapas Indramayu berhasil memanen telur sebagai bagian dari dukungan terhadap program ketahanan pangan sekaligus menunjang kegiatan pembinaan warga binaan.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni, mengatakan saat ini terdapat 175 ekor ayam petelur yang dikelola dalam program pembinaan kemandirian. Dari jumlah tersebut, produksi telur mencapai sekitar 60 hingga 65 butir per hari.

“Program budidaya ayam petelur ini merupakan bagian dari pembinaan kemandirian warga binaan sekaligus mendukung program ketahanan pangan yang menjadi perhatian Bapak Presiden,” kata Berthoni, Sabtu (23/05/2026).

Menurut Berthoni, hasil panen telur tidak hanya dimanfaatkan sebagai hasil produksi semata, tetapi juga digunakan untuk mendukung program pembinaan kemandirian bakery bagi warga binaan perempuan di Lapas Indramayu.

“Telur hasil produksi ini digunakan untuk menunjang kegiatan pembinaan kemandirian bakery bagi warga binaan perempuan. Jadi program pembinaan yang ada saling mendukung dan memberi manfaat nyata bagi warga binaan,” jelasnya.

Ia menambahkan, program pembinaan kemandirian peternakan menjadi bagian dari upaya membekali warga binaan dengan keterampilan produktif yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke tengah masyarakat.

Melalui program tersebut, Lapas Indramayu terus mendorong terciptanya pembinaan yang produktif, berkelanjutan, dan selaras program pemerintah dalam mewujudkan kemandirian pangan serta pemberdayaan warga binaan.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi


Jurnalpelita - Indramayu- Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Indramayu terus menunjukkan semangat perubahan dalam menjalani program pembinaan kemandirian di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Indramayu.

Di lahan pertanian SAE Arumanis Lapas Indramayu, para warga binaan tampak aktif mengolah media tanah dari upaya penggemburan, membuat saluran irigasi, hingga menyiapkan penanaman berbagai komoditas sayuran.

Salah satu warga binaan, Erman, mengaku senang mendapat kesempatan mengikuti program pembinaan kemandirian di bidang pertanian. Disela program pembinaan kemandirian yang diikuti, ia mengatakan berbagai kegiatan positif yang ada di Lapas Indramayu membuat warga binaan tetap produktif selama menjalani masa pidana.

“Di sini kami mendapatkan beragam program pembinaan, tidak hanya di dalam kamar hunian. Ada pengolahan pertanian seperti yang saya ikuti ini. Macam sayurannya banyak, ada terong, tomat, cabai, dan buah pepaya. Kami jadi mendapat pengetahuan baru,” ujar Erman, Jumat (22/05/2026).

Erman mengungkapkan dirinya memang memiliki latar belakang di bidang pertanian sebelum menjalani masa pidana. Karena itu, ia merasa program pembinaan di SAE Arumanis ini sangat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dan keinginannya untuk menambah pengetahuan dalam bidang pertanian.

“Memang basic saya di pertanian. Jadi di sini saya bisa menerapkan pengalaman yang saya punya sekaligus berbagi ilmu pertanian dan meningkatkannya dengan metode-metode baru yang saya pelajari dari program pembinaan ini,” katanya.

Menurut Erman, selama hampir tiga tahun menjalani masa pidana dari total vonis lima tahun, ia telah mengikuti berbagai program pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Indramayu, mulai dari budidaya maggot, hidroponik, hingga pelatihan pengelasan.

Sementara itu, Staf Pengelola Bimbingan Kemandirian Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Indramayu, Suwandi, menjelaskan program SAE saat ini diikuti lima warga binaan.

Menurutnya, warga binaan yang mengikuti program pembinaan di SAE telah dilakukan assesment berdasarkan minat, kompetensi yang dimiliki dan resiko. Selain itu, warga binaan juga harus telah memenuhi syarat secara administratif dan substantif antara lain telah menjalani setengah masa pidana dan melalui proses sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP).

“Yang utama tentu kesesuaian bidang atau basic kemampuan mereka. Selain itu, warga binaan juga harus sudah menjalani setengah masa hukuman dan melalui sidang TPP agar program ini berjalan aman dan sesuai prosedur yang berlaku,” jelas Suwandi.

Ia menambahkan, pengawasan terhadap warga binaan yang mengikuti kegiatan di luar lingkungan Lapas dilakukan secara ketat dengan melibatkan petugas dari bidang keamanan dan pembinaan.

Dalam program SAE tersebut, para warga binaan menjalankan berbagai aktivitas pertanian mulai dari penggemburan tanah hingga budidaya tanaman hortikultura seperti kangkung, caisim, tomat, cabai, terong, pepaya, hingga labu.

“Untuk saat ini kami sedang melakukan penggemburan tanah sebagai persiapan penanaman kangkung dan caisim. Sebelumnya juga sudah ada pepaya, tomat, labu, cabai, dan beberapa tanaman lainnya,” ujar Suwandi.

Program pembinaan kemandirian melalui SAE ini menjadi salah satu bentuk komitmen Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Indramayu dalam membekali warga binaan dengan keterampilan dan pengalaman kerja yang bermanfaat sebagai bekal saat kembali ke masyarakat.

Selain memberikan aktivitas positif, program tersebut juga diharapkan mampu membangun rasa tanggung jawab, disiplin, dan kepercayaan diri warga binaan selama menjalani masa pembinaan.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi


Jurnalpelita - Indramayu- Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Indramayu memastikan pelayanan kesehatan bagi warga binaan terus menjadi perhatian utama. Hal ini diwujudkan melalui program Jemput Bola Layanan Kesehatan (Jempol YanKes) oleh tim kesehatan Klinik Pratama Lapas Kelas IIB Indramayu dengan mendatangi langsung blok hunian warga binaan, Jumat (22/5/2026).

Kegiatan itu dilakukan untuk mempermudah akses layanan kesehatan bagi warga binaan dengan mengedepankan sikap humanis dan prinsip kesetaraan tanpa diskriminasi serta memastikan kondisi kesehatan mereka tetap terpantau secara berkala.

Dalam pelaksanaannya, petugas kesehatan melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital serta wawancara terkait keluhan kesehatan yang dirasakan warga binaan. Apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan lanjutan, petugas akan melakukan observasi lebih lanjut maupun merujuk pasien ke fasilitas kesehatan di luar Lapas bila diperlukan.

Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni, mengatakan program Jempol YanKes ini Gratis tidak dipungut biaya apapun, Layanan ini merupakan bentuk komitmen Lapas dalam memberikan pelayanan kesehatan yang optimal kepada seluruh Warga Binaan. 

“Melalui kegiatan jemput bola layanan kesehatan ini, kami ingin memastikan setiap warga binaan mendapatkan hak pelayanan kesehatan secara cepat dan mudah. Dengan mendatangi langsung blok hunian, keluhan kesehatan warga binaan dapat segera diketahui dan ditangani sedini mungkin, Pemeriksaan Kesehatan ini tidak dipungut biaya apapun dan diberikan kepada seluruh warga binaan termasuk obat yang akan diberikan kepada warga binaan juga gratis” katanya.

Ia menambahkan, deteksi dini terhadap gangguan kesehatan menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius di lingkungan Lapas.

“Kami terus berupaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan di dalam Lapas, termasuk melalui pemeriksaan rutin dan pendekatan proaktif seperti Jempol YanKes ini. Harapannya, kondisi kesehatan warga binaan tetap terjaga dengan baik,” tutupnya.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi


Jurnalpelita - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Indramayu kembali menunjukkan komitmennya dalam memenuhi hak-hak dasar warga binaan, termasuk hak memperoleh pendidikan. 

Sebanyak dua Anak yang Berkonflik dengan Hukum (Anak) mengikuti Asesmen Sumatif Akhir Jenjang (ASAJ) Susulan Tahun Ajaran 2025/2026 yang dilaksanakan pada Senin hingga Selasa, 18–19 Mei 2026.

Pelaksanaan ASAJ Susulan ini merupakan hasil kerja sama antara Lapas Kelas IIB Indramayu dengan UPTD SMP Negeri 1 Jatibarang dan SMP Islam Baitush Sholih Kabupaten Indramayu. 

Para siswa tetap mendapatkan kesempatan mengikuti proses evaluasi pendidikan formal meskipun sedang menjalani masa pembinaan di dalam lapas.

Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk memastikan setiap warga binaan, khususnya anak, tetap memperoleh hak pendidikan secara layak.

“Pendidikan adalah hak setiap anak, termasuk mereka yang sedang menjalani proses pembinaan di dalam lapas. Kami berupaya memastikan bahwa masa pidana tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk terus belajar dan meraih masa depan yang lebih baik,” ujar Berthoni.

Menurutnya, pelaksanaan ASAJ Susulan ini menjadi bagian penting dari program pembinaan yang berorientasi pada masa depan anak binaan.

“Kami ingin memberikan kesempatan yang sama kepada anak-anak binaan untuk menyelesaikan pendidikan formalnya. Harapannya, setelah kembali ke masyarakat, mereka memiliki bekal pengetahuan dan semangat untuk membangun kehidupan yang lebih positif,” tambahnya.

Berthoni juga menyampaikan apresiasinya kepada pihak sekolah yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Sinergi dengan instansi pendidikan sangat penting dalam mendukung keberhasilan pembinaan. Kami berterima kasih kepada SMP Negeri 1 Jatibarang dan SMP Islam Baitush Sholih yang telah memberikan perhatian dan kesempatan kepada anak binaan untuk tetap mengikuti pendidikan,” katanya.


Asesmen dilaksanakan di bawah pengawasan langsung dari pihak sekolah dan didampingi petugas lapas guna memastikan seluruh proses berjalan tertib, aman, dan sesuai ketentuan.

Ketua Panitia Ujian Sekolah dari UPTD SMP Negeri 1 Jatibarang, Asep Cipto Hadikusuma, menjelaskan bahwa pelaksanaan ASAJ ini merupakan bagian dari proses kelulusan siswa kelas IX yang tetap harus dijalani meskipun peserta didik sedang berada di dalam lapas.

“Alhamdulillah kami disambut dengan sangat baik oleh pihak Lapas Indramayu. Anak kami ini tetap diberikan kesempatan untuk mengikuti Asesmen Sumatif Akhir Jenjang sebagai salah satu syarat kelulusan. Meskipun sedang menjalani pembinaan, haknya untuk menyelesaikan pendidikan tetap terpenuhi,” jelasnya.

Ia mengatakan, pelaksanaan asesmen yang semula berlangsung selama lima hari disesuaikan menjadi dua hari agar peserta dapat mengikuti seluruh mata pelajaran dengan lebih efektif.

“Seharusnya ujian dilaksanakan selama lima hari untuk sepuluh mata pelajaran. Namun kami padatkan menjadi dua hari, masing-masing lima mata pelajaran, agar anak dapat menyelesaikan ujian dengan baik,” katanya.

Asep juga memastikan bahwa apabila peserta memenuhi seluruh persyaratan akademik, termasuk nilai harian dan hasil asesmen, maka yang bersangkutan tetap berhak memperoleh ijazah.

“Kalau memenuhi syarat, baik dari nilai harian maupun hasil asesmen, tentu akan mendapatkan ijazah. Kami jamin itu. Masa depan anak ini masih terbuka lebar dan dia masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan maupun menata hidupnya menjadi lebih baik,” terangnya.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan lancar, aman, dan kondusif. Pelaksanaan ASAJ Susulan ini menjadi bukti nyata bahwa Lapas Kelas IIB Indramayu tidak hanya berfokus pada pembinaan kedisiplinan, tetapi juga pada pemenuhan hak pendidikan sebagai bagian dari upaya membentuk generasi yang lebih baik.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi



Jurnalpelita - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Indramayu terus mengembangkan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan dengan menjalin kolaborasi bersama masyarakat melalui program Desa Binaan. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui kunjungan kerja ke Desa Malang Semirang, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Rabu (13/5/2026), untuk mempelajari dan meninjau langsung  pengolahan jamur.

Kunjungan tersebut dilakukan oleh Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni, didampingi pejabat struktural dan staf kegiatan kerja. Rombongan diterima oleh Kepala Desa Malang Semirang beserta penyuluh desa binaan.

Dalam kunjungan itu, Lapas Indramayu melakukan studi tiru terkait budidaya dan pengolahan jamur yang telah dikembangkan masyarakat desa menjadi berbagai produk bernilai ekonomis. Hasil pembelajaran ini akan menjadi bahan kajian untuk pengembangan program pembinaan kemandirian di Lapas, khususnya dalam membekali warga binaan dengan keterampilan yang memiliki prospek usaha.

Berthoni mengatakan bahwa kunjungan tersebut merupakan langkah awal untuk menggali potensi kerja sama yang dapat memberikan manfaat bagi warga binaan maupun masyarakat desa.

“Melalui program Desa Binaan, kami ingin membangun sinergi yang saling memberikan manfaat. Kunjungan ini menjadi sarana untuk belajar dan melihat secara langsung bagaimana potensi jamur dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi,” ujar Berthoni.

Menurutnya, keterampilan pengolahan jamur memiliki peluang usaha yang cukup menjanjikan dan dapat menjadi salah satu alternatif program pembinaan kemandirian di Lapas Indramayu.

“Ini masih dalam tahap penjajakan dan pembelajaran. Harapannya, ilmu yang diperoleh dapat kami adaptasi sebagai program pelatihan bagi warga binaan agar mereka memiliki bekal keterampilan dan jiwa wirausaha setelah kembali ke masyarakat,” tambahnya.

Program ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya poin ketiga mengenai penguatan ekonomi kerakyatan dan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Melalui studi tiru ini, Lapas Indramayu berharap dapat terus menghadirkan program pembinaan yang produktif, inovatif, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat kemitraan dengan masyarakat dalam menciptakan manfaat bersama.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget