Berita Tentang "Lapas"
CLOSE ADS
CLOSE ADS


Jurnalpelita - INDRAMAYU – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Indramayu melaksanakan penyembelihan dan penyaluran hewan kurban dalam rangka memperingati Hari Raya Idul Adha 1447 H yang jatuh pada 27 Mei 2026. Pada tahun ini, Lapas Indramayu menyembelih total 18 ekor hewan kurban yang terdiri dari 2 ekor sapi dan 16 ekor kambing.

Adapun hewan kurban tersebut berasal dari berbagai pihak, diataranya Bupati Indramayu, Kejaksaan Negeri Indramayu, Polres Indramayu, PDAM Indramayu, Petugas Lapas Indramayu dan Warga Binaan Lapas Indramayu, serta masyarakat.

Seluruh hasil pemotongan hewan kurban didistribusikan kepada warga binaan, petugas, dan masyarakat. Untuk warga binaan, Lapas Indramayu menyalurkan sebanyak 140 kilogram daging sapi dan 50 kilogram daging kambing yang akan diolah dan dimasak di dapur Lapas agar dapat dinikmati oleh seluruh warga binaan. Sementara itu, pendistribusian daging kurban untuk masyarakat dilakukan dengan menyalurkan sebanyak 100 paket kepada masyarakat sekitar Lapas dan 50 paket kepada masyarakat yang akan menjadi Desa Binaan Lapas Indramayu, yaitu Desa Malang Semirang, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu. Selain itu, paket daging kurban juga disampaikan kepada rekan media Lapas Indramayu, mitra UMKM, petugas Pos Bapas Indramayu, serta tenaga instruktur atau penyuluh kegiatan pembinaan di Lapas Indramayu.

Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni, menyampaikan bahwa kegiatan kurban ini merupakan bentuk kepedulian sosial sekaligus momentum untuk mempererat tali silaturahmi dan berbagi kebahagiaan di hari raya. Menurutnya, ibadah kurban tidak hanya menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa syukur, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama.

“Ibadah kurban ini adalah momentum bagi kita semua untuk meningkatkan rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama. Melalui pemotongan 2 ekor sapi dan 16 ekor kambing ini, kami ingin memastikan kebahagiaan Idul Adha dapat dirasakan oleh semua pihak," ujar Fery Berthoni.

Berthoni juga menambahkan bahwa penyaluran daging kurban kepada masyarakat sekitar merupakan wujud nyata kehadiran dan kepedulian Lapas Indramayu terhadap lingkungan sosial di sekitarnya. Ia berharap kegiatan ini dapat mempererat hubungan baik antara Lapas, warga binaan, petugas, dan masyarakat.

“Kami berharap paket kurban yang dibagikan kepada masyarakat sekitar serta seluruh pihak penerima dapat membawa keberkahan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah di lingkungan Lapas Kelas IIB Indramayu,” pungkasnya.

Proses penyembelihan hingga pendistribusian daging kurban berjalan dengan aman, tertib, dan tetap menjaga kebersihan lingkungan Lapas. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa Lapas Kelas IIB Indramayu tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan, tetapi juga terus membangun kepedulian sosial dan hubungan harmonis dengan masyarakat.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Reaksi


Jurnalpelita - Suasana Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di Lapas Kelas IIB Indramayu berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan. Salat Iduladha digelar bersama dan diikuti oleh petugas, warga binaan, serta keluarga warga binaan.

Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni, mengatakan momentum Idul Adha menjadi sarana untuk meningkatkan keimanan, kepedulian sosial, serta mempererat kebersamaan antara petugas dan warga binaan.

“Perayaan Idul Adha ini bukan hanya menjadi bentuk ibadah, tetapi juga momentum untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, kepedulian, dan ketakwaan bagi seluruh warga binaan maupun petugas di lingkungan lapas,” tutur Berthoni.

Selain pelaksanaan salat Idul Adha, Lapas Kelas IIB Indramayu juga menerima hewan kurban berupa satu ekor sapi dan 15 ekor domba. Hewan kurban tersebut disembelih dan dagingnya dibagikan kepada warga binaan, petugas, masyarakat sekitar, serta mitra kerja lapas.

“Alhamdulillah, tahun ini kami menerima titipan kurban berupa satu ekor sapi dan 15 ekor domba. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mempercayakan penyaluran hewan kurban melalui Lapas Kelas IIB Indramayu,” kata Berthoni.

Ia menambahkan, daging kurban diprioritaskan untuk seluruh warga binaan agar mereka tetap dapat merasakan suasana dan kebahagiaan Hari Raya Idul Adha meski sedang menjalani masa pembinaan di dalam lapas.

Proses penyembelihan dilakukan secara bertahap guna memastikan distribusi berjalan cepat dan merata. Pada hari pertama, pembagian difokuskan kepada warga binaan, kemudian dilanjutkan kepada masyarakat sekitar hingga seluruh hewan kurban selesai dipotong dan disalurkan.

Berthoni berharap semangat Idul Adha dapat menjadi pengingat pentingnya nilai keikhlasan, kepedulian sosial, dan ketakwaan kepada Allah SWT bagi seluruh pihak yang terlibat.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi



Jurnalpelita - Indramayu- Program pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Indramayu kembali menunjukkan hasil positif. Melalui budidaya ayam petelur, Lapas Indramayu berhasil memanen telur sebagai bagian dari dukungan terhadap program ketahanan pangan sekaligus menunjang kegiatan pembinaan warga binaan.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni, mengatakan saat ini terdapat 175 ekor ayam petelur yang dikelola dalam program pembinaan kemandirian. Dari jumlah tersebut, produksi telur mencapai sekitar 60 hingga 65 butir per hari.

“Program budidaya ayam petelur ini merupakan bagian dari pembinaan kemandirian warga binaan sekaligus mendukung program ketahanan pangan yang menjadi perhatian Bapak Presiden,” kata Berthoni, Sabtu (23/05/2026).

Menurut Berthoni, hasil panen telur tidak hanya dimanfaatkan sebagai hasil produksi semata, tetapi juga digunakan untuk mendukung program pembinaan kemandirian bakery bagi warga binaan perempuan di Lapas Indramayu.

“Telur hasil produksi ini digunakan untuk menunjang kegiatan pembinaan kemandirian bakery bagi warga binaan perempuan. Jadi program pembinaan yang ada saling mendukung dan memberi manfaat nyata bagi warga binaan,” jelasnya.

Ia menambahkan, program pembinaan kemandirian peternakan menjadi bagian dari upaya membekali warga binaan dengan keterampilan produktif yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke tengah masyarakat.

Melalui program tersebut, Lapas Indramayu terus mendorong terciptanya pembinaan yang produktif, berkelanjutan, dan selaras program pemerintah dalam mewujudkan kemandirian pangan serta pemberdayaan warga binaan.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi


Jurnalpelita - Indramayu- Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Indramayu terus menunjukkan semangat perubahan dalam menjalani program pembinaan kemandirian di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Indramayu.

Di lahan pertanian SAE Arumanis Lapas Indramayu, para warga binaan tampak aktif mengolah media tanah dari upaya penggemburan, membuat saluran irigasi, hingga menyiapkan penanaman berbagai komoditas sayuran.

Salah satu warga binaan, Erman, mengaku senang mendapat kesempatan mengikuti program pembinaan kemandirian di bidang pertanian. Disela program pembinaan kemandirian yang diikuti, ia mengatakan berbagai kegiatan positif yang ada di Lapas Indramayu membuat warga binaan tetap produktif selama menjalani masa pidana.

“Di sini kami mendapatkan beragam program pembinaan, tidak hanya di dalam kamar hunian. Ada pengolahan pertanian seperti yang saya ikuti ini. Macam sayurannya banyak, ada terong, tomat, cabai, dan buah pepaya. Kami jadi mendapat pengetahuan baru,” ujar Erman, Jumat (22/05/2026).

Erman mengungkapkan dirinya memang memiliki latar belakang di bidang pertanian sebelum menjalani masa pidana. Karena itu, ia merasa program pembinaan di SAE Arumanis ini sangat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dan keinginannya untuk menambah pengetahuan dalam bidang pertanian.

“Memang basic saya di pertanian. Jadi di sini saya bisa menerapkan pengalaman yang saya punya sekaligus berbagi ilmu pertanian dan meningkatkannya dengan metode-metode baru yang saya pelajari dari program pembinaan ini,” katanya.

Menurut Erman, selama hampir tiga tahun menjalani masa pidana dari total vonis lima tahun, ia telah mengikuti berbagai program pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Indramayu, mulai dari budidaya maggot, hidroponik, hingga pelatihan pengelasan.

Sementara itu, Staf Pengelola Bimbingan Kemandirian Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Indramayu, Suwandi, menjelaskan program SAE saat ini diikuti lima warga binaan.

Menurutnya, warga binaan yang mengikuti program pembinaan di SAE telah dilakukan assesment berdasarkan minat, kompetensi yang dimiliki dan resiko. Selain itu, warga binaan juga harus telah memenuhi syarat secara administratif dan substantif antara lain telah menjalani setengah masa pidana dan melalui proses sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP).

“Yang utama tentu kesesuaian bidang atau basic kemampuan mereka. Selain itu, warga binaan juga harus sudah menjalani setengah masa hukuman dan melalui sidang TPP agar program ini berjalan aman dan sesuai prosedur yang berlaku,” jelas Suwandi.

Ia menambahkan, pengawasan terhadap warga binaan yang mengikuti kegiatan di luar lingkungan Lapas dilakukan secara ketat dengan melibatkan petugas dari bidang keamanan dan pembinaan.

Dalam program SAE tersebut, para warga binaan menjalankan berbagai aktivitas pertanian mulai dari penggemburan tanah hingga budidaya tanaman hortikultura seperti kangkung, caisim, tomat, cabai, terong, pepaya, hingga labu.

“Untuk saat ini kami sedang melakukan penggemburan tanah sebagai persiapan penanaman kangkung dan caisim. Sebelumnya juga sudah ada pepaya, tomat, labu, cabai, dan beberapa tanaman lainnya,” ujar Suwandi.

Program pembinaan kemandirian melalui SAE ini menjadi salah satu bentuk komitmen Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Indramayu dalam membekali warga binaan dengan keterampilan dan pengalaman kerja yang bermanfaat sebagai bekal saat kembali ke masyarakat.

Selain memberikan aktivitas positif, program tersebut juga diharapkan mampu membangun rasa tanggung jawab, disiplin, dan kepercayaan diri warga binaan selama menjalani masa pembinaan.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi


Jurnalpelita - Indramayu- Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Indramayu memastikan pelayanan kesehatan bagi warga binaan terus menjadi perhatian utama. Hal ini diwujudkan melalui program Jemput Bola Layanan Kesehatan (Jempol YanKes) oleh tim kesehatan Klinik Pratama Lapas Kelas IIB Indramayu dengan mendatangi langsung blok hunian warga binaan, Jumat (22/5/2026).

Kegiatan itu dilakukan untuk mempermudah akses layanan kesehatan bagi warga binaan dengan mengedepankan sikap humanis dan prinsip kesetaraan tanpa diskriminasi serta memastikan kondisi kesehatan mereka tetap terpantau secara berkala.

Dalam pelaksanaannya, petugas kesehatan melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital serta wawancara terkait keluhan kesehatan yang dirasakan warga binaan. Apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan lanjutan, petugas akan melakukan observasi lebih lanjut maupun merujuk pasien ke fasilitas kesehatan di luar Lapas bila diperlukan.

Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni, mengatakan program Jempol YanKes ini Gratis tidak dipungut biaya apapun, Layanan ini merupakan bentuk komitmen Lapas dalam memberikan pelayanan kesehatan yang optimal kepada seluruh Warga Binaan. 

“Melalui kegiatan jemput bola layanan kesehatan ini, kami ingin memastikan setiap warga binaan mendapatkan hak pelayanan kesehatan secara cepat dan mudah. Dengan mendatangi langsung blok hunian, keluhan kesehatan warga binaan dapat segera diketahui dan ditangani sedini mungkin, Pemeriksaan Kesehatan ini tidak dipungut biaya apapun dan diberikan kepada seluruh warga binaan termasuk obat yang akan diberikan kepada warga binaan juga gratis” katanya.

Ia menambahkan, deteksi dini terhadap gangguan kesehatan menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius di lingkungan Lapas.

“Kami terus berupaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan di dalam Lapas, termasuk melalui pemeriksaan rutin dan pendekatan proaktif seperti Jempol YanKes ini. Harapannya, kondisi kesehatan warga binaan tetap terjaga dengan baik,” tutupnya.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi


Jurnalpelita - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Indramayu kembali menunjukkan komitmennya dalam memenuhi hak-hak dasar warga binaan, termasuk hak memperoleh pendidikan. 

Sebanyak dua Anak yang Berkonflik dengan Hukum (Anak) mengikuti Asesmen Sumatif Akhir Jenjang (ASAJ) Susulan Tahun Ajaran 2025/2026 yang dilaksanakan pada Senin hingga Selasa, 18–19 Mei 2026.

Pelaksanaan ASAJ Susulan ini merupakan hasil kerja sama antara Lapas Kelas IIB Indramayu dengan UPTD SMP Negeri 1 Jatibarang dan SMP Islam Baitush Sholih Kabupaten Indramayu. 

Para siswa tetap mendapatkan kesempatan mengikuti proses evaluasi pendidikan formal meskipun sedang menjalani masa pembinaan di dalam lapas.

Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk memastikan setiap warga binaan, khususnya anak, tetap memperoleh hak pendidikan secara layak.

“Pendidikan adalah hak setiap anak, termasuk mereka yang sedang menjalani proses pembinaan di dalam lapas. Kami berupaya memastikan bahwa masa pidana tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk terus belajar dan meraih masa depan yang lebih baik,” ujar Berthoni.

Menurutnya, pelaksanaan ASAJ Susulan ini menjadi bagian penting dari program pembinaan yang berorientasi pada masa depan anak binaan.

“Kami ingin memberikan kesempatan yang sama kepada anak-anak binaan untuk menyelesaikan pendidikan formalnya. Harapannya, setelah kembali ke masyarakat, mereka memiliki bekal pengetahuan dan semangat untuk membangun kehidupan yang lebih positif,” tambahnya.

Berthoni juga menyampaikan apresiasinya kepada pihak sekolah yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Sinergi dengan instansi pendidikan sangat penting dalam mendukung keberhasilan pembinaan. Kami berterima kasih kepada SMP Negeri 1 Jatibarang dan SMP Islam Baitush Sholih yang telah memberikan perhatian dan kesempatan kepada anak binaan untuk tetap mengikuti pendidikan,” katanya.


Asesmen dilaksanakan di bawah pengawasan langsung dari pihak sekolah dan didampingi petugas lapas guna memastikan seluruh proses berjalan tertib, aman, dan sesuai ketentuan.

Ketua Panitia Ujian Sekolah dari UPTD SMP Negeri 1 Jatibarang, Asep Cipto Hadikusuma, menjelaskan bahwa pelaksanaan ASAJ ini merupakan bagian dari proses kelulusan siswa kelas IX yang tetap harus dijalani meskipun peserta didik sedang berada di dalam lapas.

“Alhamdulillah kami disambut dengan sangat baik oleh pihak Lapas Indramayu. Anak kami ini tetap diberikan kesempatan untuk mengikuti Asesmen Sumatif Akhir Jenjang sebagai salah satu syarat kelulusan. Meskipun sedang menjalani pembinaan, haknya untuk menyelesaikan pendidikan tetap terpenuhi,” jelasnya.

Ia mengatakan, pelaksanaan asesmen yang semula berlangsung selama lima hari disesuaikan menjadi dua hari agar peserta dapat mengikuti seluruh mata pelajaran dengan lebih efektif.

“Seharusnya ujian dilaksanakan selama lima hari untuk sepuluh mata pelajaran. Namun kami padatkan menjadi dua hari, masing-masing lima mata pelajaran, agar anak dapat menyelesaikan ujian dengan baik,” katanya.

Asep juga memastikan bahwa apabila peserta memenuhi seluruh persyaratan akademik, termasuk nilai harian dan hasil asesmen, maka yang bersangkutan tetap berhak memperoleh ijazah.

“Kalau memenuhi syarat, baik dari nilai harian maupun hasil asesmen, tentu akan mendapatkan ijazah. Kami jamin itu. Masa depan anak ini masih terbuka lebar dan dia masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan maupun menata hidupnya menjadi lebih baik,” terangnya.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan lancar, aman, dan kondusif. Pelaksanaan ASAJ Susulan ini menjadi bukti nyata bahwa Lapas Kelas IIB Indramayu tidak hanya berfokus pada pembinaan kedisiplinan, tetapi juga pada pemenuhan hak pendidikan sebagai bagian dari upaya membentuk generasi yang lebih baik.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi



Jurnalpelita - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Indramayu terus mengembangkan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan dengan menjalin kolaborasi bersama masyarakat melalui program Desa Binaan. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui kunjungan kerja ke Desa Malang Semirang, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Rabu (13/5/2026), untuk mempelajari dan meninjau langsung  pengolahan jamur.

Kunjungan tersebut dilakukan oleh Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni, didampingi pejabat struktural dan staf kegiatan kerja. Rombongan diterima oleh Kepala Desa Malang Semirang beserta penyuluh desa binaan.

Dalam kunjungan itu, Lapas Indramayu melakukan studi tiru terkait budidaya dan pengolahan jamur yang telah dikembangkan masyarakat desa menjadi berbagai produk bernilai ekonomis. Hasil pembelajaran ini akan menjadi bahan kajian untuk pengembangan program pembinaan kemandirian di Lapas, khususnya dalam membekali warga binaan dengan keterampilan yang memiliki prospek usaha.

Berthoni mengatakan bahwa kunjungan tersebut merupakan langkah awal untuk menggali potensi kerja sama yang dapat memberikan manfaat bagi warga binaan maupun masyarakat desa.

“Melalui program Desa Binaan, kami ingin membangun sinergi yang saling memberikan manfaat. Kunjungan ini menjadi sarana untuk belajar dan melihat secara langsung bagaimana potensi jamur dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi,” ujar Berthoni.

Menurutnya, keterampilan pengolahan jamur memiliki peluang usaha yang cukup menjanjikan dan dapat menjadi salah satu alternatif program pembinaan kemandirian di Lapas Indramayu.

“Ini masih dalam tahap penjajakan dan pembelajaran. Harapannya, ilmu yang diperoleh dapat kami adaptasi sebagai program pelatihan bagi warga binaan agar mereka memiliki bekal keterampilan dan jiwa wirausaha setelah kembali ke masyarakat,” tambahnya.

Program ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya poin ketiga mengenai penguatan ekonomi kerakyatan dan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Melalui studi tiru ini, Lapas Indramayu berharap dapat terus menghadirkan program pembinaan yang produktif, inovatif, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat kemitraan dengan masyarakat dalam menciptakan manfaat bersama.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi


Jurnalpelita - Sayuran hidroponik hasil pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Indramayu kini semakin menunjukkan daya saingnya di pasar modern. Produk yang dibudidayakan bersama warga binaan tersebut dinilai telah memenuhi standar kualitas supermarket dan berpeluang memperluas pemasaran melalui Yogya Toserba Indramayu.

CO Marketing Yogya Toserba Indramayu, Sigit, menyebut kualitas sayuran hidroponik produksi Lapas Indramayu sudah masuk kategori grade A.

“Secara produk, sayuran dari Lapas sudah grade A dan layak masuk ke supermarket. Kualitasnya sangat baik dan pasokannya juga cukup menjanjikan,” ujar Sigit.

Menurutnya, kerja sama dengan Lapas memiliki nilai strategis karena mampu menjamin ketersediaan pasokan, terutama pada periode hari besar seperti Lebaran dan Iduladha ketika banyak pemasok lain menghentikan operasional.

“Ketika supplier lain libur, Lapas tetap beroperasi. Ini sangat membantu kami untuk menjaga ketersediaan stok sayuran segar,” katanya.

SPP Fresh Yogya Toserba Indramayu, Bayu, menambahkan bahwa produk hidroponik Lapas memiliki keunggulan dari sisi kesegaran dan kuantitas isi. Dalam kemasan dengan harga yang sama, produk Lapas berisi sekitar 250 gram, lebih banyak dibanding produk sejenis yang umumnya hanya 200 gram.

“Produk dari Lapas sangat bagus. Selain lebih segar, isi per kemasannya juga lebih banyak,” kata Bayu.

Ia mengungkapkan minat konsumen terhadap sayuran hidroponik cukup tinggi karena masyarakat semakin memperhatikan kualitas, kebersihan, dan tampilan produk.

“Respons masyarakat bagus. Konsumen tertarik pada produk yang segar, berkualitas, dan konsisten,” ujarnya.

Bayu juga melihat peluang pengembangan melalui penambahan komoditas seperti pakcoy muda, bayam merah, dan daun ketumbar yang masih jarang tersedia di pasar modern.

“Kami ingin mengoptimalkan kerja sama dengan Lapas. Kalau variannya bertambah, minat konsumen tentu akan semakin meningkat,” tambahnya.

Sementara itu, Kasubsi Kegiatan Kerja Lapas Indramayu, Apudin, menjelaskan bahwa keberhasilan menghasilkan sayuran hidroponik berkualitas merupakan hasil riset dan uji coba yang berlangsung selama empat tahun.

“Dibutuhkan waktu sekitar empat tahun untuk menemukan formula pupuk yang tepat sehingga kami dapat menghasilkan sayuran hidroponik berkualitas yang memenuhi standar supermarket,” ucap Apudin.

Ia menuturkan bahwa program hidroponik tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga menjadi sarana pembinaan keterampilan bagi warga binaan yang terlibat langsung dalam seluruh proses budidaya.

“Warga binaan ikut terlibat langsung dalam proses penanaman hidroponik ini. Selain menghasilkan produk berkualitas, kegiatan ini juga membekali mereka dengan keterampilan yang berguna setelah kembali ke masyarakat,” tuturnya.

Untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat, Lapas Indramayu berencana memperluas lahan hidroponik agar kapasitas produksi semakin besar dan lebih banyak sayuran dapat dipasarkan ke supermarket.

Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi

Jurnalpelita - Indramayu- Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Indramayu terus berupaya memenuhi hak-hak warga binaan melalui penyediaan layanan Warung Telekomunikasi Khusus pemasyarakatan (Wartelsuspas). Fasilitas ini memungkinkan warga binaan untuk berkomunikasi dengan keluarga secara legal, aman, dan berada dalam pengawasan petugas.

Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak Didik dan Kegiatan Kerja, Rachmad Putra, menjelaskan bahwa sistem Wartelsuspas berbasis Android dan dapat digunakan untuk telepon suara maupun video call. Setiap warga binaan memiliki akun pribadi berupa ID dan password yang digunakan untuk mengakses layanan tersebut.

“Setiap warga binaan memiliki akun masing-masing. Mereka tinggal melakukan top up saldo, mulai dari nominal kecil, atau menggunakan voucher. Jika masih ada sisa saldo, dapat digunakan kembali dan tidak bisa dipakai oleh orang lain,” jelas Rachmad, Rabu (13/05/2026).

Lebih lanjut Rachmad menegaskan bahwa layanan Wartelsuspas memiliki dasar hukum yang kuat, yakni Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan dan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang syarat dan tata cara pelaksanaan hak warga binaan.

“Dalam aturan tersebut disebutkan bahwa warga binaan berhak untuk berkomunikasi secara legal, dan pelaksanaannya diatur oleh lapas melalui fasilitas seperti Wartelsuspas,” ujar Rachmad.

Saat ini, Lapas Indramayu menyediakan tiga unit Wartelsuspas yang ditempatkan di Blok A, Blok C, dan blok wanita. Setiap unit diawasi langsung oleh petugas guna memastikan komunikasi berjalan sesuai aturan dan tidak disalahgunakan.

Salah seorang warga binaan wanita, Silvi, mengaku sangat terbantu dengan keberadaan Wartelsuspas. Menurutnya, fasilitas tersebut memudahkan dirinya untuk tetap berkomunikasi dengan keluarga.

“Setiap hari saya menggunakan fasilitas ini untuk menelepon keluarga. Sangat membantu karena komunikasi menjadi lancar dan kami bisa tetap terhubung dengan keluarga,” ungkap Silvi.

Sementara itu, warga binaan lainnya, Diantoro, menilai Wartelsuspas menjadi sarana yang penting untuk menjaga hubungan dengan keluarga selama menjalani masa pidana. Menurutnya, layanan yang tersedia, termasuk video call, membuat warga binaan dapat melepas rindu dengan lebih nyaman.

Keberadaan Wartelsuspas menjadi wujud komitmen Lapas Indramayu dalam memberikan pelayanan yang humanis sekaligus menjaga keamanan dan ketertiban. Melalui fasilitas ini, warga binaan tetap dapat menjalin komunikasi dengan keluarga secara legal, terawasi, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi


Jurnalpelita - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Indramayu terus berkomitmen meningkatkan kualitas pembinaan bagi warga binaan, salah satunya melalui pelatihan keterampilan pembuatan tas rajut bagi warga binaan wanita. Kegiatan yang berlangsung pada 11–12 Mei 2026 ini digelar di Selasar Blok Wanita Lapas Indramayu bekerja sama dengan CV. Iswelaa Rajut.

Sebanyak 18 warga binaan perempuan mengikuti pelatihan tersebut dengan penuh antusias. Dalam kegiatan ini, para peserta dibimbing secara langsung untuk mempelajari teknik dasar hingga proses pembuatan tas rajut yang memiliki nilai ekonomis dan berpotensi dipasarkan sebagai produk UMKM.

Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian yang bertujuan membekali warga binaan dengan keterampilan produktif yang dapat dimanfaatkan setelah mereka kembali ke masyarakat.

“Pembinaan di Lapas tidak hanya berfokus pada pembentukan sikap dan mental, tetapi juga pada pemberian keterampilan yang memiliki nilai ekonomi. Melalui pelatihan tas rajut ini, kami berharap warga binaan perempuan dapat memiliki bekal usaha yang bermanfaat untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti,” ujar Berthoni.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini sejalan dengan implementasi Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya poin ketiga mengenai penguatan ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan masyarakat dan pengembangan UMKM.

“Warga binaan juga merupakan bagian dari masyarakat yang harus diberdayakan. Dengan keterampilan seperti ini, mereka memiliki kesempatan untuk lebih mandiri, produktif, dan siap berkontribusi positif di tengah masyarakat,” tambahnya.

Pelatihan tas rajut ini menjadi salah satu bentuk nyata dukungan Lapas Indramayu terhadap program pembinaan berbasis keterampilan. Selain memberikan pengetahuan teknis, kegiatan ini juga diharapkan mampu menumbuhkan rasa percaya diri, kreativitas, dan semangat berwirausaha bagi para peserta.

Ke depan, Lapas Indramayu akan terus mengoptimalkan program pembinaan kemandirian, khususnya bagi warga binaan wanita, serta mendorong pengembangan produk kerajinan agar memiliki daya saing dan nilai tambah di pasaran. Monitoring dan evaluasi juga akan dilakukan secara berkelanjutan guna memastikan program pembinaan berjalan efektif dan memberikan manfaat yang nyata.

Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi

Mei 08, 2026 , ,


Jurnalpelita - Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Indramayu menggelar ikrar bersama pemasyarakatan bersih dari handphone ilegal, narkoba, dan penipuan yang dirangkaikan dengan razia gabungan, tes urine, serta penyuluhan bahaya narkoba, Jumat (08/05/2026)


Kegiatan tersebut melibatkan jajaran Polres Indramayu, Kodim 0616 Indramayu, BNNK Kota Cirebon, unsur Forkopimda, LSM, hingga media.

Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang bersih dan aman dari peredaran barang terlarang.

“Hari ini Lapas Kelas IIB Indramayu melaksanakan ikrar pemasyarakatan bersih dari handphone ilegal, narkoba, dan penipuan. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan razia gabungan, tes urine, maupun penyuluhan dari BNNK Kota Cirebon mengenai bahaya narkoba kepada warga binaan, petugas, maupun peserta magang,” kata Berthoni.

Dalam razia tersebut, petugas menemukan sejumlah barang yang dinilai melanggar tata tertib lapas, mulai dari alat komunikasi hingga barang lain yang berpotensi disalahgunakan.

Berthoni menegaskan, pihaknya tidak menutup-nutupi hasil temuan razia. Menurutnya, keberadaan barang-barang tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pengawasan dan pemeriksaan di lingkungan lapas.

“Ini menjadi bahan evaluasi bagi kami terkait bagaimana barang-barang terlarang itu bisa masuk. Ke depan pengawasan, penggeledahan barang maupun badan terhadap petugas, warga binaan, hingga pengunjung akan terus diperketat,” ucapnya.

Meski demikian, Berthoni memastikan hak komunikasi warga binaan tetap diberikan sesuai ketentuan Undang-Undang Pemasyarakatan melalui fasilitas Wartel Khusus Pemasyarakatan (Wartelsuspas).

Ia menyebutkan, saat ini Lapas Indramayu memiliki 13 sarana komunikasi yang tersebar di sejumlah blok hunian, yakni di Blok A, Blok B, Blok C, dan blok wanita.

“Jadi hak komunikasi warga binaan tetap dijamin, namun sarana dan mekanismenya diatur melalui Wartelsuspas,” jelasnya.

Selain razia, petugas juga melaksanakan tes urine terhadap warga binaan dan petugas lapas. Hingga proses pemeriksaan berlangsung, hasil tes urine masih menunjukkan hasil negatif.

“Sampai saat ini alhamdulillah masih negatif. Kalau ada yang positif tentu akan kami tindaklanjuti sesuai prosedur, termasuk pemeriksaan apakah karena pengaruh obat-obatan medis atau hal lainnya,” ucap Fery.

Dalam razia tersebut, petugas turut menemukan sejumlah obat-obatan yang disimpan tanpa pengawasan klinik lapas. Menurut Berthoni, obat yang dibawa keluarga tetap diperbolehkan selama berdasarkan resep dokter dan pendistribusiannya dilakukan melalui layanan kesehatan lapas.

“Pemberian obat kepada warga binaan harus sepengetahuan dokter dan diatur melalui klinik lapas. Jadi tidak bisa langsung disimpan bebas di kamar hunian,” tegasnya.

Ia juga menambahkan, pihak lapas terus meningkatkan layanan kesehatan bagi warga binaan dengan menggandeng puskesmas dan Dinas Kesehatan setempat, termasuk dalam deteksi penyakit menular seperti tuberkulosis (TB).

“Beberapa waktu lalu kami juga melakukan pemeriksaan TB bekerja sama dengan puskesmas. Sampel dahak warga binaan diperiksa untuk mengetahui potensi penularan sehingga bisa segera ditindaklanjuti,” pungkasnya.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi

Jurnalpelita - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Indramayu terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui inovasi bertajuk Jempolan (Jemput Bola Layanan Kesehatan dan Integrasi).

Program ini dirancang untuk memberikan kemudahan akses layanan kesehatan serta layanan integrasi bagi tahanan dan warga binaan secara lebih proaktif.

Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni, menjelaskan bahwa inovasi Jempolan hadir sebagai bentuk komitmen dalam memenuhi hak dasar warga binaan, khususnya di bidang kesehatan dan pembinaan.

“Melalui program Jempolan, petugas tidak hanya menunggu warga binaan datang ke klinik, tetapi aktif mendatangi blok hunian untuk memastikan kondisi kesehatan mereka. Ini bagian dari pelayanan jemput bola yang kami terapkan,” terang Berthoni.

Dalam pelaksanaannya, perawat lapas secara rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, perawatan luka, serta kontrol ke blok hunian minimal satu kali dalam seminggu. Selain itu, petugas kesehatan juga disiagakan secara on-call untuk menangani kondisi darurat atau melakukan rujukan ke rumah sakit apabila diperlukan.

Tak hanya fokus pada aspek kuratif, program ini juga menitikberatkan upaya promotif dan preventif melalui penyuluhan kesehatan. Edukasi diberikan kepada warga binaan mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan hunian guna mencegah penyakit.

Di sisi lain, inovasi Jempolan juga mencakup layanan integrasi. Lapas Indramayu menyediakan ruang khusus bagi warga binaan yang ingin berkonsultasi atau mengajukan program integrasi, seperti pembebasan bersyarat dan hak lainnya.

“Pendekatan ini kami lakukan agar warga binaan yang mungkin merasa sungkan atau takut bertemu petugas di ruang kantor tetap bisa mengakses layanan. Dengan sistem jemput bola, mereka jadi lebih terbuka dan terlayani,” tambahnya.

Program ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pemenuhan hak kesehatan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, yang menegaskan bahwa setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan tanpa diskriminasi, termasuk warga binaan pemasyarakatan.

Dampak dari inovasi ini mulai dirasakan, baik oleh warga binaan maupun petugas. Tingkat kesadaran kesehatan meningkat, akses layanan menjadi lebih mudah, serta komunikasi antara petugas dan warga binaan semakin terbuka.

Dengan hadirnya Jempolan, Lapas Kelas IIB Indramayu berharap dapat menciptakan pelayanan yang lebih humanis, optimal, dan berkelanjutan dalam mendukung pembinaan warga binaan menuju reintegrasi sosial.


Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi


Jurnalpelita - Sejumlah keluarga warga binaan pemasyarakatan (WBP) memberikan penilaian positif terhadap layanan kunjungan di Lapas Kelas IIB Indramayu. Hal ini terungkap dari hasil wawancara dengan tiga orang pengunjung yang dilakukan pada Kamis (30/04/2026).

Lisna Widiana, warga Juntinyuat, mengaku telah hampir satu tahun rutin mengunjungi ibunya yang berada di dalam Lapas. Dalam sebulan, ia bisa datang satu hingga dua kali setiap pekan. Menurutnya, pelayanan yang diberikan petugas selama ini dinilai baik dan responsif.

“Alhamdulillah selama ini baik, bagus semua. Kalau ada kondisi ibu saya apa pun, langsung direspons cepat oleh petugas. Bahkan waktu ibu sempat sakit, saya langsung dihubungi,” ujar Lisna.

Ia juga menambahkan bahwa proses pendaftaran kunjungan berjalan lancar tanpa dipersulit. Selain itu, fasilitas yang tersedia dinilai cukup nyaman, termasuk adanya area bermain anak yang membuat keluarga merasa lebih betah saat berkunjung.

Hal senada disampaikan Lely, pengunjung asal Patrol yang telah lebih dari satu tahun rutin menjenguk suaminya. Ia mengaku hampir setiap bulan datang, dengan frekuensi satu hingga dua kali kunjungan.

“Layanannya sangat baik, petugasnya ramah-ramah. Fasilitas di dalam juga bagus dan nyaman,” kata Lely.

Sementara itu, April, pengunjung asal Singaraja, meski baru tiga kali melakukan kunjungan, turut memberikan kesan positif terhadap layanan yang diberikan. 

“Petugasnya ramah, baik, sopan. Tempatnya juga bersih dan nyaman. Semua berjalan sesuai prosedur, dan petugas selalu mengingatkan waktu kunjungan,” ungkap April.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni, menegaskan komitmennya untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, khususnya keluarga warga binaan.

“Kami berkomitmen untuk selalu memberikan layanan terbaik bagi masyarakat, khususnya para pengunjung dan keluarga warga binaan. Evaluasi dan peningkatan layanan akan terus kami lakukan agar pelayanan di Lapas Indramayu semakin baik dari waktu ke waktu,” ucap Berthoni.

Dari keterangan para narasumber tersebut, layanan kunjungan di Lapas Indramayu dinilai tidak hanya mengedepankan kenyamanan, tetapi juga respons cepat terhadap kebutuhan warga binaan dan keluarganya. Hal ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas pelayanan publik di lingkungan pemasyarakatan.




Pena  
 By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto/Video
By.
Redaksi

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget