Berita Tentang "Sejarah"
CLOSE ADS
CLOSE ADS


Indramayu
 Today  Pemerintah Kabupaten Indramayu lakukan pemeliharaan Taman Makam Pahlawan (TMP) Dharma Ayu yang terletak di Jalan Kembar No. 350 Kepandean, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu.

Proses pengerjaan dilakukan oleh Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Indramayu bidang Pemberdayaan Sosial pada Sub Koordinator Pemeliharaan Taman Makam Pahlawan (TMP) Dharma Ayu.


Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Netty Rosnetty melalui Pengelola Sub Koordinator Pemeliharaan TMP Taskuri mengatakan, pemeliharaan dilakukan meliputi beberapa aspek dalam rangka menjelang perayaan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

“Pemeliharaan berupa pengecatan, penghijauan, pengolahan data dan kebersihan. Kegiatan ini dilaksanakan secara berkelanjutan selama satu bulan, yaitu pada bulan Juli 2022. Kegiatan dimulai dari pengecatan pagar (tembok) Taman Makam Pahlawan yang dilakukan oleh Petugas TMP,” katanya kepada Diskominfo Indramayu, Jum’at (22/7/2022).


Kemudian jelas Taskuri, penghijauan yaitu berupa penanaman bunga dan penataan pot yang dilaksanakan bersama Tagana, kemudian pengelolaan data kembali makam pahlawan dengan pemasangan daftar nama makam pahlawan berdasarkan denah TMP.


“Selian itu juga kita rutinitas kan pembersihan lingkungan makam pahlawan dari dedaunan yang jatuh dan pemotongan rumput,” jelasnya.


Taskuri mengungkapkan, pemeliharaan ini sebagai instruksi Bupati Indramayu Nina Agustina Da’i Bachtiar melalui Kepala Dinsos Indramayu sebagai penghormatan jasa-jasa pahlawan dahulu dan juga memberikan kesan nyaman bagi peziarah.


“Kegiatan-kegiatan tersebut bertujuan supaya memberikan lingkungan yang nyaman bagi para peziarah dan menjadikan Taman Makam Pahlawan Dharma Ayu sebagai ikon yang mencerminkan nilai kepahlawanan di Kabupaten Indramayu,” ungkapnya.


Pena
By.
Redaksi
Editor
By.
Redaksi
Foto / Video
By.
Internet

Indonesia Memang Kaya akan Khasanah Budaya Bangsa yang dilahirkan dari Nenek Moyang Kita salah satunnya adalah Jenis Kesenian atau tarian di Jawa Barat Yakni Tari Jaipong.
Tari jaipong asal jawa barat

Pengertian Tari Jaipong

Jaipongan adalah sebuah aliran seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman Berasal dari Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu.
Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan.

Sebagai tarian pergaulan, tari Jaipong berhasil dikembangkan oleh Seniman Sunda menjadi tarian yang memasyarakat dan sangat digemari oleh masyarakat Jawa Barat (khususnya), bahkan populer sampai di luar Jawa Barat.

Menyebut Jaipongan sebenarnya tak hanya akan mengingatkan orang pada sejenis tari tradisi Sunda yang atraktif dengan gerak yang dinamis. Tangan, bahu, dan pinggul selalu menjadi bagian dominan dalam pola gerak yang lincah, diiringi oleh pukulan kendang. Terutama pada penari perempuan, seluruhnya itu selalu dibarengi dengan senyum manis dan kerlingan mata. Inilah sejenis tarian pergaulan dalam tradisi tari Sunda yang muncul pada akhir tahun 1970-an yang sampai hari ini popularitasnya masih hidup di tengah masyarakat.

Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul.

Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.
[ads-post]
Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu / Doger / Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu / Doger / Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini.

Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget