Aksi gotong royong ini berfokus menyisir pematang dan area persawahan untuk membasmi sarang serta meminimalkan populasi tikus. Langkah ini diambil karena tanaman padi yang baru ditanam berada pada fase paling rentan terhadap serangan hama pemakan batang tersebut.
Kuwu Desa Langut, Heru Prayitno, menegaskan bahwa penanganan dini sangat krusial agar ancaman gagal tumbuh bisa ditekan sejak awal.
"Kami bergerak cepat bersama masyarakat untuk mengendalikan hama tikus sejak dini. Tanpa pengendalian yang masif, tikus dapat merusak tanaman padi muda dalam waktu singkat dan merugikan petani. Lewat gropyokan gotong royong ini, kami ingin memastikan tanaman padi dapat tumbuh optimal serta memberi rasa aman bagi para petani," ujar Heru.
Manfaat gerakan bersama ini dirasakan langsung oleh warga. Sayidi, salah seorang petani Desa Langut, menyambut positif inisiatif pemdes tersebut. Menurutnya, pembasmian hama tikus tidak bisa dilakukan secara individu, melainkan harus serentak agar membuahkan hasil maksimal.
"Pengendalian hama seperti ini jauh lebih efektif kalau dikerjakan bersama-sama. Kami sangat terbantu karena tikus memang jadi ancaman utama setelah tanam. Harapan kami, populasi tikus turun signifikan sehingga tanaman padi bisa tumbuh subur sampai panen nanti," kata Sayidi.
Melalui tradisi gropyokan ini, semangat gotong royong antara pemerintah desa dan masyarakat kembali terlihat nyata. Sinergi di tingkat tapak ini diharapkan tidak hanya menjaga produktivitas lahan pertanian Desa Langut, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan daerah dari lini paling dasar.
Pena | By. | Redaksi |
Editor | By. | Redaksi |
Foto/Video | By. | Internet |

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.