Jurnalpelita - Kegiatan bertajuk Survey Lapangan & Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Indramayu pada 22–24 April 2026 menjadi langkah strategis dalam memperkuat edukasi lingkungan berbasis mangrove di dunia pendidikan. Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), serta Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia.
Mengusung tema “Next Generation of Mangrove Stewards”, kegiatan ini difokuskan pada analisis kebutuhan awal dalam penyusunan modul edukasi mangrove berbasis sekolah dan madrasah.
Muhammad Feri, M.Pd., perwakilan dari UNUSIA, menjelaskan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan wilayah pesisir melalui pendekatan pendidikan. Menurutnya, pengembangan bahan ajar menjadi langkah penting agar kesadaran lingkungan dapat ditanamkan sejak dini.
“Ya, baiklah, kita dari UNUSIA bekerja sama dengan program M4CR untuk ketahanan pesisir. Jadi di Indonesia ini kita melakukan pengembangan bahan ajar untuk sekolah dan madrasah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa modul yang dikembangkan menyasar jenjang pendidikan dasar hingga menengah, dengan pendekatan berbasis proyek. Modul tersebut dirancang agar dapat digunakan oleh guru sebagai panduan dalam mendampingi siswa menjalankan kegiatan edukasi mangrove secara langsung.
“Modul ini nantinya bisa digunakan oleh guru untuk membimbing siswa melaksanakan proyek edukasi mangrove. Dengan modul ini menjadi petunjuk pelaksanaan bagi siswa, misalnya kegiatan ekowisata mangrove, penanaman, dan aktivitas lingkungan lainnya,” jelasnya.
Feri juga menegaskan bahwa sasaran utama program ini adalah siswa SD hingga SMP, sehingga materi yang disusun disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan kebutuhan mereka.
“Dari perencanaan yang kita kembangkan, modul ini memang diperuntukkan bagi siswa sekolah dasar dan menengah, agar mereka bisa lebih memahami pentingnya mangrove sejak dini,” tambahnya.
Sementara itu, Junaedi, penggiat mangrove dari Kelompok Rapi Jaya Putra Pantai Tiris Desa Pabean Ilir, Kecamatan Pasekan, Kabupaten Indramayu, menyambut baik inisiatif penyusunan modul edukasi tersebut. Ia menilai keterlibatan dunia pendidikan sangat penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove di wilayah pesisir.
“Kalau sejak kecil anak-anak sudah dikenalkan dengan mangrove, mereka akan lebih peduli terhadap lingkungan. Apalagi di wilayah pesisir seperti Pabean Ilir, mangrove itu sangat penting untuk mencegah abrasi dan menjaga kehidupan masyarakat,” ungkapnya.
Junaedi juga berharap program ini tidak hanya berhenti pada penyusunan modul, tetapi dapat diimplementasikan secara nyata di lapangan dengan melibatkan masyarakat.
“Kami di desa siap mendukung, baik untuk kegiatan penanaman maupun edukasi langsung di lapangan. Harapannya, siswa tidak hanya belajar teori, tapi juga praktik menjaga mangrove,” tambahnya.
Melalui kegiatan FGD ini, para pemangku kepentingan, akademisi, praktisi lingkungan, hingga masyarakat lokal turut memberikan masukan untuk penyempurnaan modul. Diharapkan, hasil dari program ini mampu mencetak generasi muda yang peduli lingkungan serta berperan aktif dalam menjaga ekosistem pesisir, khususnya mangrove, sebagai benteng alami dari abrasi dan perubahan iklim.
Pena | By. | Redaksi |
Editor | By. | Redaksi |
Foto/Video | By. | Redaksi |
