Jurnalpelita - Sebanyak 700 peserta didik LPK Kaina Indonesia turun langsung dalam aksi bersih sampah memperingati Hari Peduli Sampah Nasional yang mengusung tema “Jalan Sehat Pungut Sampah”. Kegiatan yang dipusatkan di Rumah Hijau, Ruko Cluster Sultan, dan diikuti dengan penuh antusias oleh para calon pekerja yang akan diberangkatkan ke Jepang.
Direktur LPK Kaina Indonesia, Teguh Adi Koesoemah Putra, menegaskan bahwa persoalan sampah bukan sekadar aktivitas memungut dan membersihkan lingkungan, tetapi menyangkut perubahan pola pikir masyarakat dalam memperlakukan sampah.
“Sampah itu merupakan sebuah fenomena dan pemecahannya bukan hanya sekadar kita memungut. Perlu mereset pola pikir masyarakat. Artinya mereka harus tahu bahwa tidak dibenarkan membuang sampah sembarangan, apalagi dengan sengaja,” ujar Teguh.
Menurutnya, pelibatan ratusan peserta didik dalam kegiatan tersebut memiliki tujuan edukatif yang kuat. Seluruh peserta merupakan calon pekerja yang tengah dipersiapkan untuk bekerja di Jepang. Melalui kegiatan ini, mereka ditanamkan kedisiplinan serta kesadaran lingkungan sejak dini sebagai bagian dari pembentukan karakter sebelum berangkat ke luar negeri.
Teguh menjelaskan, sistem pengelolaan sampah di Jepang sudah sangat tertata, mulai dari pemisahan, pembuangan, hingga proses daur ulang yang disiplin dan terstruktur. Ia berharap pengalaman bekerja selama 3–5 tahun di Jepang nantinya dapat membentuk karakter peserta agar terbiasa hidup bersih dan tertib.
“Di Jepang itu pola daur ulang, pembuangan, dan pemisahan sampahnya sudah tersistem. Harapan saya, mereka nanti setelah bekerja dan kembali ke Indonesia, sudah terbiasa dengan pola hidup bersih dan bisa menerapkannya di sini,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, LPK Kaina Indonesia juga bekerjasama Rumah Hijau Sindang, salah satu bank sampah di Kecamatan Sindang. Kerja sama tersebut difokuskan pada pengelolaan sampah botol minuman yang dikumpulkan selama kegiatan berlangsung untuk kemudian diproses dan didaur ulang agar memiliki nilai guna.
“Konsumsi botol minuman di masyarakat cukup tinggi. Maka botol-botol itu kami tampung melalui bank sampah untuk diproses kembali agar memiliki nilai guna,” jelas Teguh.
Selain melibatkan peserta didik, kegiatan ini juga mendapat dukungan dari elemen masyarakat dan sejumlah lembaga yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan. Aksi jalan sehat sambil memungut sampah tersebut menjadi simbol gerakan kolektif untuk membangun kesadaran bersama tentang pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.
Teguh berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata, melainkan menjadi program berkelanjutan yang mampu membangun budaya disiplin dalam pengelolaan sampah di tengah masyarakat.
“Ke depan, kegiatan seperti ini perlu program yang menyeluruh agar masyarakat benar-benar taat membuang sampah pada tempatnya. Karena sebagian fenomena alam seperti banjir dan tanah longsor salah satunya dipicu oleh ketidakteraturan dalam membuang sampah,” tegasnya.
Ia optimistis, dengan pembiasaan sejak masa pelatihan serta pengalaman bekerja di Jepang, para peserta LPK Kaina Indonesia akan menjadi agen perubahan ketika kembali ke tanah air, membawa budaya disiplin dan kepedulian lingkungan untuk diterapkan di Indonesia.
Pena | By. | Redaksi |
Editor | By. | Redaksi |
Foto/Video | By. | Redaksi |

Posting Komentar