Berita Tentang "BMI"

Indramayu, - Kisah pilu kembali terjadi pada seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Indramayu, kali ini menimpa pada Unidah Bt Warsidi (24), warga Blok Lebe Suud, Rt. 001, Rw. 005, Desa Dadap, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Photo TKW a.n Unidah Bt Warsidi sedang sakit - Photo : SBMI Indramayu

Unidah, mengaku dirinya dipulangkan dalam kondisi sakit lumpuh akibat sering disiksa oleh majikan perempuannya bernama Lin Chun Bun pada saat bekerja sebagai PRT di Malaysia.

"Hampir seluruh tubuh saya penuh luka memar, dan yang paling saya rasakan paling sakit di tulang leher saya karena sering ditendang dari belakang pada saat saya sedang menyetrika baju," ucap Unidah sambil memperlihatkan tubuhnya yang penuh luka memar kepada LiputanBMI, pada Minggu (28/1/2018).

Lanjut Unidah, dirinya sering dipukul, ditendang, bahkan kepalanya dijambak-jambak kemudian dibentur-benturkan ke tembok oleh majikan padahal ia merasa tidak melakukan kesalahan.

Meski dalam kondisi sakit Unidah dipaksa untuk tetap terus bekerja. Selama sakit majikan belum pernah membawanya ke rumah sakit maupun klinik untuk berobat sehingga dirinya terus menerus minta untuk dipulangkan.

"Saya minta dipulangkan karena saya sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit dan sudah tidak berdaya serta saya pun tidak mau jika nanti mati di Malaysia," keluhnya.
[ads-post]
Warsidi (49), ayah kandung korban menghantarkan anaknya bekerja sebagai TKW ke Malaysia awalnya direkrut oleh Asmari, sponsor warga Desa Sendang, Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Pada tanggal 10 April 2016, Unidah diterbangkan ke Malaysia oleh PT Bina Gala Mitra beralamat di Jl. Raya Hankam, Gg. Sasak Jikin, No. 9A, Pondok Melati, Bekasi, Jawa Barat.

Di Malaysia anaknya bekerja pada majikan bernama Lee Chun Fatt dan istrinya bernama Lin Chun Bun tinggal di daerah Pulau Pinang, kerja selama kurang lebih satu tahun setengah.

Pada 27 Januari 2018 dalam kondisi sakit anaknya dipulangkan melalui bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta.

"Saya merasa kecewa terhadap PJTKI yang tidak menghantar anak saya sampai rumah, dengan biaya sendiri saya menjemput kepulangan anak saya di Bandara Jogja," kata Warsidi.

Sementara itu, Samudi, Koordinator tim advokasi SBMI Cabang Indramayu menyampaikan pihaknya dalam waktu dekat akan membawa korban terlebih dahulu untuk berobat dan kemudian baru akan meminta pertanggungjawaban dari pihak perekrut.

"Rencana secepatnya akan kami bawa Unidah ke RSUD Indramayu untuk diobati, kasihan korban selama sakit belum pernah dibawa berobat," ujar Samudi.

Indramayu, – Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) melalui Kasi Litigasi dan non Litigasi, Direktorat Mediasi dan Advokasi, Pujiono menyerahkan bantuan tanggap darurat berupa uang tunai kepada dua orang pekerja migran bermasalah asal Indramayu, pada Rabu (07/02/18).
BNP2TKI Serahkan Bantuan Kepada Dua TKW Asal Indramayu

Bantuan tersebut diberikan kepada Nuryati (33) warga Desa Majasari, Kecamatan Sliyeg, dan Ernawati (36), warga Desa Krasak, Kecamatan Jatibarang masing-masing mendapat uang sebesar Rp 3,5 juta.
“Ini wujud perhatian pemerintah kepada Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang mengalami masalah, walau nilainya tidak seberapa semoga bisa bermanfaat untuk meringankan penderitaan mereka,” ucap Pujiono, di Kantor Kecamatan Sukra.

Pujiono juga berpesan, jika hendak kembali bekerja ke luar negeri untuk menjadi PMI harus secara prosedural serta mempersiapkan mental dan membekali dengan skill agar mampu melindungi diri jika mengalami masalah.

“Jika nanti mengalami masalah minimal meraka tahu siapa yang terlebih dahulu dihubungi untuk dimintai bantuan,” imbuhnya.

Sementara itu Nuryati, PMI yang menerima bantuan dikarenakan hampir 9 tahun diperlakukan tidak manusiawi oleh majikannya saat bekerja di Arab Saudi mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang sudah peduli dengan permasalahannya.

“Alhamdulillah dapat bantuan dari pemerintah, tapi saya juga berharap pihak BNP2TKI masih bisa memperjuangkan hak-hak saya sebagai PMI selama 9 tahun tidak mendapat gaji dan diperlakukan tidak manusiawi yang menyebabkan saya harus menanggung derita cacat permanen seumur hidup,” harap Nuryati.
Senada dengan Nuryati, Ernawati eks PMI Taiwan yang baru 3 Minggu dipulangkan karena sakit, merasa senang setelah menerima bantuan.
[ads-post]
“Dengan adanya bantuan dari BNP2TKI, saya merasa bahagia sudah dibantu dan diperhatikan oleh pemerintah sehingga dapat membantu meringankan penderitaan saya,” pungkasnya.

Sementara itu Ketua SBMI Indramayu Juwarih Setia mengatakan bantuan tanggap darurat masih sangat disayangkan karena masih banyak TKI yang belum tahu dengan adanya program BNP2TKI tersebut.
“Pada tahun 2017 SBMI mengajukan 9 orang, Alhamdulillah disetujui semua. Dan tahun 2018 ini kami mengajukan 10 Orang, baru 2 orang yang di setujui ini,” kata Juwarih.

Sebelumnya diketahui Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia pada tahun 2015 lalu, telah membuat kebijakan Peraturan Kepala BNP2TKI, berupa PERKA No. 02/2015 tentang Petunjuk Teknis Pemberian Bantuan Tanggap Darurat bagi TKI Bermasalah.

INDRAMAYU - Selama 13 tahun seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) bernama Dastin binti Tasja (30), warga Desa Juntikedokan Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, hilang kontak dengan keluarganya saat bekerja di Amman, Yordania.
13 Tahun Kerja di Yordania, TKI Asal Indramayu Ini Tak Ada Kabar 

"Dari informasi keluarganya, Dastin sudah 13 tahun tidak ada kabar beritanya apakah dia dalam kondisi baik ataupun tidak," kata Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Indramayu, Juwarih di Indramayu, Senin (12/3/2018).

Dijelaskannya, Dastin merupakan warga Blok H. Sarpin, RT. 05, RW. 01, Desa Juntikedokan, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu menjadi pekerja rumah tangga (PRT) di Amman, Yordania. Juwarih mengatakan dari cerita keluarganya, saat pamit berangkat Dastin bersama ibunya, namun saat sampai di Yordania keduanya berpisah, di mana ibu Dastin ditempatkan di kampung dan sekarang sudah pulang.

"Sedangkan Dastin ditempatkan di kotanya sampai sekarang belum juga pulang," tuturnya.

Juwarih mengatakan Dastin bersama ibunya berangkat ke Yordania sejak 25 Maret 2005 silam. Dia direkrut oleh Junaedi, sponsor warga Juntikedokan, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Yang bersangkutan diproses dan diberangkatkan melalui PT Safarindo Insan Copar via PT Avida Avia Duta yang beralamat di Jl. Abdurrahman, No. 17, Kelurahan Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur.
[ads-post]
Sedangkan agenci yang menempatkan yaitu Rolla Gerent - Al Mucu YTA - Zahroon Regiyon di Amman, Yordania. Dastin kemudian ditempatkan di rumah majikannya di PO Box 132, Deater Mimi Cipality, Amman Yordania.

"Sejak keberangkatannya hingga saat ini Dastin tidak diketahui keberadaannya. Hanya pernah kirim uang Rp3 juta kepada keluarganya saat baru enam bulan kerja," kata Juwarih.

Juwarih menambahkan pihaknya akan mempelajari terlebih dahulu pengaduan dari pihak keluarga, karena tidak ada satu pun salinan dokumen yang dipegang keluarga.

"Jika data-data yang dibutuhkan sudah lengkap kami akan segera menyampaikan pengaduan ke beberapa kementerian terkait," kata Juwarih lagi. (Red)

Merasa kecewa karena ditipu mertuanya, TKW asal Indramayu ini rela membongkar kembali rumah yang sudah dibangun dengan biaya hasil jerih payahnya selama beberapa Tahun bekerja di taiwan.
Melati Sukma Formosa
Melati Sukma Formosa 

Pengalaman pahit ini dirasakan oleh seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Indramayu.

Ia merasakan kekecewaan karena tindakan mertuanya yang ia anggap tak sejalan dengan keinginannya.

Pengguna akun Facebook Melati Sukma Formosa itu mengaku telah ditipu mertuanya.

Menurutnya, rumah yang dibangun dari penghasilannya tak sebanding dengan jumlah uang yang ia kirimkan pada sang mertua.

Hal tersebut pun mendorong dirinya untuk membongkar rumah hasil jerih payahnya memeras keringat di Taiwan.

Melati kemudian membagikan curhatan tersebut ke Facebook, Rabu (17/1/2018).

"Beginihlah kalau bikin rumah di posisi mertua.

Perhatian buat para BMI semua ya pahlawan devisa di mana pun berada, cukup nasibku ajah yang kayak begini.

Tapi sekarang atiku udah legowo karena udah ku bongkar rumahku jerih payahku beberapa tahun.

Banyak uang yang aku kirim ternyata hasilnya mah cuman segini-gini ajah ku merasa dibohongi tapi ku berusaha tetap bersabar #ihklasdenganlapangdada," tulisnya.

Pernyataan tersebut kemudian mendatangkan dukungan maupun hujatan dari warganet.

Shofeeq Wef: Jare tetep sabar, kok dibongkar? Karepmu lah.

Ghamil Al Nadjema: Cari simpti atau cari ridho ilahi, ikhlas ya dari segi mana bila keadaanya bgtu, rumah itu bisa untuk anak kelak nanti.
[ads-post]
Bunda Ponorogo: Gawene lo angel ora eman to dibongkar, mending gawe anake ae kan wes duwe anak.

Mimin AremAnita Formosa: Persis koyok aku Mbak, tapi iso puas lek wes dibongkar ngono iku.

Aya Siti Khoiria Endang: Yang sabar Mba insyaallah akan indah pada waktunya. Semangat terus Mba.

Josephine Modesta Anna Romana: Nikah lagi saja. Sudah cantik, pinter cari duit, banyak yang mau.

Simak videonya!

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget