Berita Tentang "Analisis"

Dalam sistem demokrasi, peran partai politik (parpol) sangat besar menjadi penghubung yang strategis antara pemerintahan dan warga negara. Tidak berlebihan jika ada yang beranggapan, parpollah yang menentukan demokrasi Indonesia.

Ilustrasi
UU Nomor 2 Tahun 2008 menyebutkkan parpol dibentuk untuk mewujudkan cita-cita nasional bangsa sesuai dengan UUD 1945. Menjaga dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila dengan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat, serta mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Artinya, parpol dibentuk sebagai wadah untuk menampung suara dan aspirasi rakyat untuk menuju kesejahteraan.

Tetapi seiring waktu berjalan, ternyata banyak parpol melenceng dari tujuan awalnya karena banyak kader yang notabene generasi muda, terjerat kasus korupsi. Hal ini pun membuktikan, spirit dan peran besar kaum muda sebagai agen of change dalam beberapa dekade terakhir mulai meragukan. Tambah lagi dengan gaya hidup hedonisme, gempuran budaya barat menjadi salah satu penyebab utama.

Jiwa nasionalisme kaum muda mulai luntur dan peran vital yang selama mereka mainkan mulai berubah. Padahal, ibarat nyawa kehidupan, nasionalisme merupakan jantung keberlangsungan kehidupan berbangsa bernegara. Nasionalisme merupakan tiang penegak eksistensi suatu negara. Kondisi ini semakin parah dengan banyaknya generasi muda yang mulai melupakan Pancasila sebagai ideologi Indonesia.

Sedikit ke belakang, sejarah terbentuk tidak terlepas dari peran dan kerja keras kaum muda. Sejak kebangkitan nasional tahun 1908 sampai kemerdekaan, kaum muda memegang peranan vital dalam perjalanan sejarah. Saat kritis, pemuda selalu berada di garda depan dan sigap. Mereka bersatu tujuan tanpa memandang suku, ras, maupun agama. Spirit itulah yang kemudian menjadi cikal bakal Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928 dan Kemerdekaan Indonesia.

Pemuda-pemudi mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia. Peran mereka masih terlihat ketika Orde Lama dan baru tumbang, sampai bergulirnya reformasi. Campur tangan pemuda tidak bisa diabaikan dalam sejarah Indonesia.
Seiring berubahnya zaman, peran besar kaum muda mulai tidak terasa ketika Indonesia sedang membangun sistem demokrasi, sistem pemerintahan yang oleh Abraham Lincoln (1809–1865) didefiniskan sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Artinya, kekuasaan tertinggi dalam sistem demokrasi di tangan rakyat. Wargalah yang mempunyai hak, kesempatan, dan suara sama di dalam mengatur kebijakan pemerintahan.
[ads-post]
Namun sayang, peran besar pemuda seolah “terpasung” dengan berbagai kebijakan serta aturan yang dibuat sekelompok golongan atas nama demokrasi. Aturan yang secara tidak langsung mengebiri hak-hak kaum muda yang ingin berkontribusi untuk bangsa dan negara.

Demokrasi yang seharusnya menjadi media untuk memberi kebebasan justru sebaliknya. Kaum pemuda mulai kehilangan arah dan tujuan karena lebih banyak yang berpikir pragmatis. Memang, untuk menuju demokrasi membutuhkan kendaraan bernama parpol.

Peran awal yang baik sudah hilang.

Kepentingan parpol yang merupakan kepanjangan tangan suara rakyat mulai pudar. Parpol lebih banyak ditunggangi kepentingan organisasi atau kelompok tertentu yang pragmatis. Mereka mengabaikan kepentingan rakyat. Banyak faktor yang menyebabkan peran parpol dalam penegakan sistem demokrasi mulai dipertanyakan.

Di antaranya, parpol lebih banyak berorientasi politik praktis. Tidak dipungkiri, pascareformasi parpol lebih banyak didominasi kepentingan politik praktis. Partai saling sikut untuk mendapat lebih banyak kursi legislatif guna semakin meningkatkan bargaining. Padahal di sisi lain, politik praktis yang dianut dan dijalankan parpol mengabaikan hak serta aspirasi rakyat.
Regenerasi

Regenerasi
Regenerasi tubuh parpol tidak sehat. Sudah menjadi rahasia umum, kaderisasi internal parpol terus menjadi persoalan serius yang tidak bisa diselesaikan. Bahkan, sejumlah parpol mulai menunjukkan indikasi gagal dalam kaderisasi. Kondisi itu semakin pelik ketika ada politik dinasti dalam parpol.
Padahal, politik dinasti sangat tidak sehat dan bisa meruntuhkan sistem demokrasi yang sedang dibangun. Kemudian, minimnya peran politisi muda dari unsur cendikiawan. Padahal kalau boleh jujur Indonesia merupakan gudang cendikiawan yang memiliki pemikiran brilian untuk memajukan bangsa. Tetapi karena tidak memiliki “cukup ruang” untuk berekspresi dalam sistem demokrasi, akhirnya ide dan gagasan besar tersebut tinggal tetap dalam benak.
Sebagai pilar demokrasi, parpol harus bisa mengembalikan eksistensinya sebagai perwakilan suara rakyat. Nilai filosofis yang selama ini mulai terabaikan karena banyak parpol yang memiliki orientasi praktis. Meski sekarang semakin banyak bermunculan partai baru, ternyata belum sepenuhnya bisa mewakili suara rakyat. Parpol belum sepenuhnya bisa menampung politisi dan kaum muda “berbakat” seperti kaum cendikiawan atau kaum intelektual yang benar-benar hanya ingin membangun bangsa, tanpa ditumpangi kepentingan lain. Ini tantangan besar parpol agar mau menampung dan mewadahi pemuda-pemudi yang memiliki kapabilitas membangun bangsa.
Parpol harusnya mulai menata internal dengan memberi ruang bagi kaum cendekiawan yang ingin bersama berkontribusi untuk bangsa. Tidak hanya asal merekrut kader, tanpa dibekali kemampuan dan hanya berdasarkan popularitas. Sebenarnya, banyak kaum muda memiliki kapasitas, tapi tidak bisa menyalurkan gagasan dan inovasinya karena ruang berdemokrasinya tertutup.
Pembenahan internal parpol sangat mendesak mengingat demokrasi Indonesia belum bisa menyejahterakan seluruh rakyat seperti dicita-citakan founding fathers. Pembenahan internal partai dengan memasukkan generasi muda “berbakat.” Dengan begitu, citra parpol akan lebih baik dan bisa benar-benar menjalankan fungsi untuk mengembangkan demokrasi berdasarkan Pancasila berlandaskan nilai-nilai ketuhanan. Mereka bisa mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat. 
Penulis Oleh Miftakul Akla, Mahasiswa Pascasarjana Undip Semarang

Pertanyaan yang tampak sederhana, sesederhana cara berpikir orang yang mengungkapkannya. Untuk menjawab, mungkin kita perlu menelaah lagi sejarah dan fakta yang ada di lapangan.
Penulis
Asma Nadia

Saya tidak akan bercerita tentang peristiwa bulan Oktober di tahun 1945, ketika kelompok pemuda PKI membantai pejabat pemerintahan di Kota Tegal, menguliti serta membunuh sang bupati. Tak cukup di situ, mereka menghinakan keluarganya. Kardinah, adik kandung RA Kartini yang menikah dengan bupati Tegal periode sebelumnya, termasuk salah satu korban. Pakaian wanita sepuh itu dilucuti, kemudian diarak dengan mengenakan karung goni.

Betapa saat rakyat Indonesia tengah berjuang melawan penjajah, ketika arek-arek Suroboyo berebut merobek bendera merah putih biru di Hotel Yamato, lalu bertarung menghadapi sekutu pada 10 November, di belahan lain sebulan sebelumnya, sejumlah pejuang turut berdarah-darah dalam pertempuran lima hari di Semarang, membredeli tentara Jepang, PKI justru merusak tatanan bangsa di mana-mana. Menggerogoti dari dalam.

Anasir PKI bergerak merebut kekuasaan di Slawi, Serang, Pekalongan, Brebes, Tegal, Pemalang, Cirebon, dan berbagai wilayah lain. Menghilangkan nyawa anak bangsa dan tokoh pejuang. Bupati Lebak dihabisi, tokoh nasional Otto Iskandardinata diculik dan dieksekusi mati bahkan keberadaan jenazahnya menyisakan misteri. Sultan Langkat dibunuh serta hartanya dijarah. Bahkan Gubernur Suryo, tokoh sentral dari peristiwa di Surabaya juga dibunuh PKI.
[ads-post]
Ketika tokoh PKI Amir Syarifuddin Harahap berhasil menjadi Perdana Menteri di tahun 1948, arus bawah PKI merasa mempunyai kekuatan. Muso memproklamirkan Republik Soviet Indonesia, beraliansi komunis. Dan lebih parah lagi dalam Perjanjian Renville, dengan mudah Amir Syarifuddin menyerahkan begitu banyak kekuasaan pada Belanda dan memasung wilayah Indonesia.

Keganasan PKI makin membabi buta.
Saya sebenarnya tidak hendak bercerita tentang peristiwa di Gontor. Ketika setiap pagi menjelang, satu per satu kyai diabsen dan nama yang disebut serta-merta disembelih. Atau kisah Haji Dimyati, aktivis Masyumi yang digorok lehernya sebelum dimasukkan ke sebuah sumur bersama korban pembantaian lainnya.

Juga tentang kesaksian Isra dari Surabaya yang ayahnya diseret ke sawah sembari dihajar beramai-ramai hingga jasadnya tidak berbentuk lagi; hancur, habis terbakar, dan dimakan anjing. Sang anak terpaksa memungut potongan tubuh ayahnya satu per satu dan dimasukkan kaleng.

Atau cerita Moch. Amir yang empat sahabatnya sesama aktivis dakwah disiksa dengan dipotong kemaluan dan telinga mereka hingga ajal menjemput. Atau testimoni Suradi saat para kyai dimasukkan loji lalu dibakar. Yang berhasil keluar tak lantas bebas, melainkan dibacoki. Pun saya sejujurnya tidak ingin mengisahkan kesaksian Mughni yang melihat tokoh Islam dari Masyumi di Ponorogo diciduk dan dinaikkan truk. Telinga kakaknya dipotong, lalu dibuang di sumur tua.

Juga tentang Kapolres Ismiadi yang diseret dengan Jeep Wilis sejauh 3 km hingga wafat. Setelah tentara dibunuhi, gantian polisi dilibas. Kemudian pejabat, ulama, serta para santri.
Pascagerakan komunis berhasil dihentikan di tahun 1948, pada 1965 PKI kembali beraksi.
Buya Hamka, Ketua MUI pertama dan para ulama lainnya dipenjara. Mereka difitnah oleh kalangan PKI yang saat itu sangat dekat dengan pemerintah berkuasa. Tak hanya menerima siksaan setiap hari, Buya Hamka memperoleh ancaman akan disetrum kemaluannya.

Deretan kisah mengiris hati di atas pernah saya baca, tapi tidak akan saya ceritakan sebagai jawaban atas pertanyaan itu. Karena mungkin hanya dianggap serpihan dari peristiwa kecil.

Tapi, kini mari kita lihat apa yang terjadi jika komunisme berkuasa.
Di Uni Soviet, sekitar 7 juta orang tewas dalam Revolusi Bolsevik dipimpin oleh Lenin. Di masa Stalin 20 juta orang terbunuh untuk memuluskan program komunisme.
Salah satu cara komunisme bertahan adalah, melestarikan tidak adanya perbedaan pendapat, dan jika berbeda sebaiknya dibunuh, berapa pun jumlah korban yang dibutuhkan.

Di Kamboja, sekitar 2 juta orang atau sepertiga jumlah penduduk dibantai untuk mengukuhkan kekuasaan komunis. Di Cina jumlah korban meninggal dalam revolusi diduga mencapai 80 juta.
Jadi, jika PKI bangkit, memangnya kenapa?
Pertanyaan seperti ini lebih baik dijawab dengan pertanyaan.
JIka PKI pernah mengkhianati kemerdekaan bangsa, apa jaminan mereka tidak akan mengulanginya?

Jika baru mempunyai sedikit kekuasaan saja sudah membantai begitu banyak orang, apa yang terjadi jika memegang kekuasaan besar?

Jika komunisme dilatih tidak bisa berbeda pendapat, lalu di mana letak kebebasan?
Dan yang terpenting dari semua itu, jangan berteriak korban. Mengutip Ahmad Mansur Suryanegara, PKI di Indonesia bukan korban, mereka pelaku. Atau istilah Agung Pribadi dalam buku Gara-Gara Indonesia, ini saatnya rekonsiliasi, kita bisa maafkan, tapi jangan lupakan sejarah pembantaian yang dilakukan PKI.

Dunia pada awal 2018 ini sudah dibuat panik dengan rentetan bencana alam yang terjadi.
Mulai dari gempa bumi hingga gunung meletus yang terjadi hampir berdekatan.
Pasific Ring Of Fire

Hal ini pun berdampak di Indonesia dan negara-negara kawasan cincin api. Apalagi di Indonesia juga telah terjadi serentetan bencana seperti erupsi gunung Agung, gunung Sinabung dan gempa bumi di Lebak Banten.

Belum lagi di Alaska juga terjadi gempa hingga 7,9 SR yang sempat menimbulkan peringatan tsunami.
Adapun twitter resmi United Nations Secretariat for International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR) pada (23/1/2018) menyebut Ring of Fire telah aktif kembali.

UNISDR menyebut “Cincin Api Pasifik Aktif Hari Ini”. UNISDR juga mencatat beberapa aktivitas yang terjadi di Cincin Api Pasifik diantaanya erupsi Gunung Mayon di Filipina, erupsi Gunung Kusatsu Shirane dan menyebabkan longsor di Jepang, gempa di Banten yang terasa juga di Jakarta, hingga gempa 7,9 SR yang sempat menimbulkan peringatan tsunami di Alaska.

Kejadian ini pun terjadi di waktu yang bersamaan. Namun demikian, melalui ABC News Ilmuwan dan ahli geofisika dari USGS, William Yeck meragukan bahwa kejadian-kejadian tersebut mempunyai keterkaitan.

“Sangat tidak mungkin kalau itu berkaitan” ujarnya, Selasa (23/1/2018). Ia juga menambahkan bahwa tidak ada aktivitas yang “tidak biasa” pada cincin api.

Seperti diketahui, Indonesia juga merupakan negara yang berada di garis depan pertemuan antara tiga lempeng, yaitu lempeng Austronesia, Asia, dan Pasifik.
Negara ini berada dalam lilitan sabuk cincin api Pasifik.

Gesekan antar lempeng itu, membuat bawah bumi Indonesia selalu bergejolak dan mendidih.
Tak heran sering terjadi gempa bumi di Indonesia.

Saran BMKG Bila Terjadi Gempa
Ilustrasi

Sebagai pedoman, empat saran dari BMKG saat terjadi gempa bumi, adalah:

1. Jika Anda berada di dalam bangunan.

Lindungi badan dan kepala Anda dari reruntuhan bangunan dengan bersembunyi di bawah meja dll; Cari tempat yang paling aman dari reruntuhan dan goncangan; Lari ke luar apabila masih dapat dilakukan.

2. Jika berada di luar bangunan atau area terbuka.

Menghindari dari bangunan yang ada di sekitar Anda seperti gedung, tiang listrik, pohon, dll
Perhatikan tempat Anda berpijak, hindari apabila terjadi rekahan tanah.

3. Jika Anda sedang mengendarai mobil.

Ke luar, turun dan menjauh dari mobil hindari jika terjadi pergeseran atau kebakaran;
Lakukan point B.

4. Jika Anda tinggal atau berada di pantai.

Jauhi pantai untuk menghindari bahaya tsunami.

5. Jika Anda tinggal di daerah pegunungan.

Apabila terjadi gempabumi hindari daerah yang mungkin terjadi longsoran.
[ads-post]
Jam Kiamat Mendekat
Ilustrasi

Para ilmuwan menggerakkan jarum "Jam Kiamat" mendekati tengah malam, Kamis (25/1/2018).

Ini dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran akan senjata nuklir dan perubahan iklim.

Dikutip dari usatoday.com, Jumat (26/1/2018), "Jam Kiamat" dua menit mendekati tengah malam.

"Karena bahaya yang luar biasa saat ini, jarum menit "Jam Kiamat" kini 30 detik lebih dekat ke malapetaka," kata Rachel Bronson, Presiden Bulletin of the Atomic Scientists.

"Ini adalah jam terdekat yang pernah ada di Doomsday, dan sedekat itu pada tahun 1953, pada puncak Perang Dingin "
Setiap tahun, Bulletin of the Atomic Scientists, memutuskan apakah kejadian tahun sebelumnya mendorong manusia lebih dekat atau lebih jauh dari kehancuran.

"Jam Kiamat" saat ini paling mendekati tengah malam sejak 1953.

Saat itu juga dua menit mendekati tengah malam pada tahun 1953 saat bom hidrogen pertama kali diuji.

"Kami telah membuat pernyataan yang jelas bahwa kami merasa dunia semakin berbahaya," kata Lawrence Krauss, ketua Dewan Sponsor Buletin dan Direktur Proyek Origins Arizona State University.

"Bahaya kebakaran nuklir bukanlah satu-satunya alasan jam telah bergerak maju."

Pengumuman tersebut dibuat di Washington, D.C., di National Press Club.

Diungkapkan, pada 2017, para pemimpin dunia gagal merespon ancaman perang nuklir dan perubahan iklim, membuat situasi keamanan dunia lebih berbahaya daripada setahun yang lalu - dan sama berbahayanya dengan Perang Dunia II.

"Risiko terbesar tahun lalu muncul di dunia nuklir. Program senjata nuklir Korea Utara tampaknya membuat kemajuan luar biasa di tahun 2017, meningkatkan risiko untuk dirinya sendiri, negara-negara lain di kawasan ini, dan Amerika Serikat," ungkapnya.

"Retorika hiperbolik dan tindakan provokatif di kedua belah pihak telah meningkatkan kemungkinan perang nuklir secara tidak sengaja atau salah perhitungan."

"Bangsa-bangsa di dunia harus secara signifikan menurunkan emisi gas rumah kaca mereka agar risiko iklim tetap terjaga,".

Semakin mendekati tengah malam, semakin dekat perkiraan bahwa bencana global akan terjadi.

Yang terjauh dari tengah malam adalah pada tahun 1991, 17 menit sampai tengah malam saat Perang Dingin berakhir.

Jam Kiamat telah dibuat oleh Bulletin of The Atomic Scientists sejak tahun 1947. Kelompok ini didirikan pada tahun 1945 oleh ilmuwan University of Chicago yang telah membantu mengembangkan senjata nuklir pertama di Proyek Manhattan.
Para ilmuwan menciptakan jam pada tahun 1947 dengan menggunakan citra kiamat (tengah malam), (menghitung mundur ke nol) untuk menggambarkan ancaman terhadap kemanusiaan dan bumi. (Red)

Mimpi bisa menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan, tapi di sisi lain mimpi juga bisa menjadi sesuatu yang sangat mengerikan. Kadang kala pula mimpi bisa menjadi sesuatu yang membingungkan. Namun pernahkah Anda memimpikan seseorang secara berulang kali?
Jika Anda pernah memimpikan seseorang secara berulang kali, entah itu orang yang Anda sukai atau Anda benci, semua mimpi tersebut ternyata ada artinya jika dilihat dari sisi psikologis.
Ilustrasi
Seseorang bisa muncul secara berulang kali ke dalam mimpi Anda bukan berarti Anda akan menghabiskan sisa hidup Anda dengan orang tersebut. Tapi orang tersebut melambangkan sesuatu yang tidak Anda ketahui maknanya.

“Model pikiran sangat sesuai dengan gagasan tentang komputer,” kata psikolog klinis Dr. John Mayer kepada Elite Daily.
[ads-post]
“Ketika kita tidur, komputer kecil itu (otak) akan terus berputar. Itu tidak dimatikan atau berhenti. Kita memiliki persepsi bahwa kita merasa kosong saat sedang tidur, tapi (otak) tetap terus berjalan,” tambah Mayer.

Dia menambahkan kalau kita memimpikan seseorang secara berulang kali, orang tersebut sebenarnya melambangkan tekanan atau kegelisahan yang sedang Anda alami.

“Mimpi tersebut biasanya tidak sama persis, tetapi temanya biasanya berulang. Itu terus berulang di komputer (otak) Anda,” kata Mayer.

Jadi mungkin saja Anda sedang mengalami tekanan jika sering memimpikan seseorang yang sama secara berulang kali.

Sumber: Mirror.co.uk

Kenaikan suhu yang ekstrim dan meningkatnya air muka laut akibat global warming (pemanasan global), mengancam sejumlah wilayah di Indonesia. Daerah Khusus Ibukota (DKI Jakarta) merupakan salah satu wilayah yang sangat rentah terhadap peningkatan curah hujan.
 
Berdasarkan proyeksi curah hujan jangka pendek dan jangka panjang untuk daerah Jakarta hingga tahun 2030. Pada proyeksi curah hujan jangka pendek, terdapat sedikit perubahan pada pola sebaran curah hujan, meski belum ada perubahan nilai curah hujan maksimum dari tahun ke tahun yaitu tetap 340 mm.

"Pada proyeksi jangka pendek memperlihatkan terjadinya kenaikan jumlah curah hujan di Jakarta, khususnya bagian selatan. Curah hujan pun akan semakin mengalami peningkatan sebesar 20 milimeter setiap lima tahun," papar ahli perubahan iklim dari Institut Teknologi Bandung, Dr. rer.nat. Armi Susandi, MT, dalam orasi ilmiah yang dilakukan pada peresmian penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2010/2011 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB, Bandung.

Sedangkan pada proyeksi curah hujan jangka panjang, terjadi penyebaran peningkatan curah hujan ke arah utara. Sehingga Jakarta Pusat dan sebagian Jakarta Selatan, akan kerap terjadi banjir bandang yang jauh lebih besar pada tahun-tahun sesudah 2030.

Anomali cuaca dan iklim ini akan menimbulkan dampak yang lebih dramatis seperti yang akan terjadi pada Pulau Bali. Luas Pulau Bali kini 5.632 kilometer persegi, pada 2050 akan terendam seluas 489 kilometer persegi. Rendamannya akan semakin luas pada 2070, hingga mencapai 557 kilometer persegi.

Dan yang lebih mencengangkan, kerendaman wilayah ini akan mengakibatkan terpisahnya Pulau Bali menjadi dua bagian. Tanah genting yang selama ini menjadi penghubung sebagian besar Pulau Bali dengan Nusa Dua, diantaranya terdapat Pantai Kuta dan Sanur, akan ternggelam.

"Nusa Dua akan menjadi pulau tersendiri yang terpisah dari Pulau Bali. Maka dari itu, puas-puaslah bepergian di Pantai Kuta dan Sanur sebelum tenggelam," selorohnya kepada ratusan mahasiswa baru ITB angkatan 2010/2011.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget